15 April 2006 admin

Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang wanita dengan wajah yang buruk rupa. Sedemikian buruknya sehingga para pemuda di desa itu menjauhinya. Di desa tersebut ada sebuah kebiasaan untuk memberi mas kawin dari pria yang hendak melamar gadis. Dan pasti, si buruk rupa tadi, menjadi tertawaan para pemuda. Banyak tidaknya mas kawin yang diberikan tersebut tergantung dari kecantikan sang gadis. Jadi apabila gadis itu berwajah biasa-biasa saja, maka mas kawinnya berharga seekor kambing. Kalau lebih cantik lagi, jumlah kambingnya bertambah banyak. Dan yang terbanyak mas kawinnya sampai saat itu adalah mas kawin primadona di desa tersebut, sebanyak 10 ekor kambing. Setiap…

15 Maret 2006 admin 2Comment

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihatnya ketika Baturetno sedang basah dengan air hujan. Malam yang berkabut ketika itu, dan ia mengetuk pintu perlahan, “Assalamu’alaikum…!” Cakep, saya pikir. Jauh nilainya di atas perkiraan saya sebelumnya ketika Bapak mengatakan akan ada penghuni baru di rumah ini. Kalau Gunawan yang bintang sinetron itu saya beri nilai sepuluh, maka tentu ia akan saya beri nilai dua belas. (lebih…)

9 Maret 2006 admin

Ujung malam bercerita… Senyum itu senantiasa hadir dalam setiap lamunanku, seakan hendak menguliti jiwaku yang sebenarnya memang kerdil. Padahal, tak ada yang istimewa pada dirinya meski bibirnya merah tapi masih kalah dengan bibir bintang sinetron pujaan adikku, tapi satu yang pasti bahwa bibir itu pernah mengajarkanku bahwa doa bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses untuk mempertegas usaha, lentik jemarinya tak pernah terasa lembut dengan gerak gemulai yang kerap hadir dalam setiap geliat lekuk tubuhnya, seakan menampar keberanianku untuk angkuh. (lebih…)

16 April 2005 admin 4Comment

Siang kota Bogor hari itu begitu cerah. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya dengan sinar matahari yang sekedar menerangi. Lalu lalang manusia di sepanjang trotoar tak kalah ramai dengan mobil-mobil yang berhamburan di badan jalan aspal. Rupanya suasana yang sedikit berbeda ini tak ingin dilewati begitu saja, dengan ceria mereka menikmati hari. Orang-orang terlihat lebih bersemangat hari itu. (lebih…)

16 April 2005 admin 2Comment

Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring. Dhillah berjalan terburu-buru, bahkan hampir berlari. Wajahnya penuh dengan amarah dan kekecewaan. “Dhillah! Dhillah! Tunggu…!” teriakan Jeje seolah tak didengarnya. Dhillah terus melaju tanpa menoleh. “Dhillah! Tunggu dulu! Ada apa ini?!” tiba-tiba langkah Dhillah tertahan oleh sepasang tangan yang memegang erat pundaknya. (lebih…)

16 April 2005 admin 3Comment

“…ima wa mada kanashii love song atarashii uta utaeru made…”, lantunan merdu lagu First Love-nya Utada Hikaru malam itu tiba-tiba bergema dari satu kamar di sebuah rumah kosan mungil. Jeje tengah berada di ruang tamu tampak mengahayati benar setiap bait dari lirik lagu tersebut. Secangkir kopi panas mengepul di atas meja, menemaninya duduk di sofa bututnya itu. (lebih…)

23 Oktober 2004 admin

Jam kuliahku begitu padat! Gerah aku dengan semua ini. Praktikum, tugas, quiz, seakan tiada akhir… Ah, begitu penat hidupku hari ini, dan selalu begitu. Dengan 5 buku tebal didalam tas punggungku, terasa langkah kaki ini semakin berat. Asap polusi seakan membuatku ingin berteriak namun sesak. Ribuan pasang kaki yang melangkah disekelilingku terasa berbeda dari biasanya. Aku sedikit mengeluh melihat langit yang mulai mendung sore ini sambil mempercepat langkahku. Tas punggungku terasa semakin berat dengan buku-buku itu didalamnya. (lebih…)

23 Oktober 2004 admin 2Comment

“Jey, itu dompet siapa, Jey?”, tanya Opik setelah melihat sebuah dompet tebal tergeletak di pinggir jalan sepulang dari kampus. “Wah, kayaknya dompet yang jatuh deh”, jawab Ajey cuek, berbarengan dengan diambilnya dompet itu oleh Opik. (lebih…)