<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agus W &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://agusw.com/category/my-weblog/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://agusw.com</link>
	<description>Let It' s Be!</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Jan 2012 06:33:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>HARGA SEBUAH CINTA</title>
		<link>http://agusw.com/agusw-25/</link>
		<comments>http://agusw.com/agusw-25/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Apr 2006 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang wanita dengan wajah yang buruk rupa. Sedemikian buruknya sehingga para pemuda di desa itu menjauhinya. Di desa tersebut ada sebuah kebiasaan untuk memberi mas kawin dari pria yang hendak melamar gadis. Dan pasti, si buruk rupa tadi, menjadi tertawaan para pemuda. Banyak tidaknya mas kawin yang diberikan tersebut tergantung [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah di sebuah desa hiduplah seorang wanita dengan wajah yang buruk rupa. Sedemikian buruknya sehingga para pemuda di desa itu menjauhinya. Di desa tersebut ada sebuah kebiasaan untuk memberi mas kawin dari pria yang hendak melamar gadis. Dan pasti, si buruk rupa tadi, menjadi tertawaan para pemuda.<br />
Banyak tidaknya mas kawin yang diberikan tersebut tergantung dari kecantikan sang gadis. Jadi apabila gadis itu berwajah biasa-biasa saja, maka mas kawinnya berharga seekor kambing. Kalau lebih cantik lagi, jumlah kambingnya bertambah banyak. Dan yang terbanyak mas kawinnya sampai saat itu adalah mas kawin primadona di desa tersebut, sebanyak 10 ekor kambing.<br />
Setiap orang berguman tentang &#8216;harga&#8217; gadis jelek itu. Mereka berkata; &#8220;Ah, dia kan buruk rupa. Mana ada yang mau dengan dia. Jangankan seekor kambing, seekor ayam pun pasti tidak ada yang mau membayarnya.&#8221;<br />
Dan yang lain berkata: &#8220;Jangankan seekor ayam, membayarnya dengan bangkai ayam mati pun pasti tidak ada yang mau.&#8221;<br />
Dan mereka menertawakan nasib gadis malang yang buruk rupa itu. Gadis itu bolak-balik medengar gurauan mereka, dan hatinya menjadi sedih dan terluka. Harga dirinya rusak, dan dia sendiri hampir percaya, bahwa tidak ada seorangpun yang mau mengambil dia sebagai istri.<br />
Sampai suatu saat, tersiar kabar bahwa gadis buruk rupa itu disunting oleh pemuda dari desa seberang. Dan penduduk desa pun bertanya-tanya, pemuda malang manakah yang gila meminang gadis buruk rupa itu?<br />
Mereka berbondong-bondong datang ke rumah orang tua gadis buruk rupa tersebut dan bermaksud menanyakan tentang kebenaran hal tersebut. Dan alangkah kagetnya mereka, ketika sampai di sana, mereka menemukan mas kawin dari pemuda itu.<br />
Mas kawinnya berupa sapi!<br />
Tidak pernah ada seorang wanita cantik mana pun yang pernah diberi mas kawin semahal dan seberharga itu!<br />
Bahkan gadis tercantik di desa itu hanya &#8216;seberharga&#8217; 10 ekor kambing. Dan mereka lebih terkejut lagi ketika mendapatkan bahwa tidak hanya seekor sapi, tapi ada sepuluh ekor sapi di kandang di samping rumah gadis buruk rupa itu.<br />
Sepuluh? Ya sepuluh ekor sapi!<br />
Mereka tambah penasaran. Oleh sebab itu, penduduk berbondong-bondong berjalan ke desa seberang untuk melihat bagaimana nasib wanita buruk rupa itu.<br />
Berjuta pertanyaan muncul saat itu. &#8220;Kok pemuda itu gila ya? Matanya buta kali, nggak lihat apa kalau dia jelek setengah mati?&#8221;<br />
&#8220;Ah jangan-jangan cuma dijadikan pembantu rumah tangga, pasti diberi makanan yang sedikit lalu dijual lagi ke pedagang budak belian.&#8221;<br />
Ketika sampai di rumah pemuda tersebut, mereka melihat bahwa rumah tersebut amatlah mewah. Dindingnya diukir dengan amat indah. Dan mereka semakin yakin bahwa dugaan mereka tentang wanita malang ini akan dijadikan pembantu rumah tangga dan budak adalah benar. Ketika mereka mengetuk pintu, seorang pemuda yang amat tampan menyambut mereka. Dia memperkenalkan diri sebagai pemilik rumah. Mereka bertanya apakah mereka bisa bertemu dengan gadis tersebut. Sang pemuda kembali masuk ke rumah, setelah mempersilahkan mereka duduk di ruang tamu.<br />
Seorang wanita muda yang cantik datang menyambut mereka. Rambutnya tertata rapi, tutur katanya halus, dengan ramah ia mempersilahkan mereka mengambil makanan dan minuman.<br />
Penduduk bertanya, &#8220;Di manakah gerangan gadis yang berasal dari desa mereka?&#8221;<br />
&#8220;Apakah baik-baik saja? Dimanakah ia sekarang?&#8221;<br />
Wanita yang cantik tersebut menjawab, &#8220;Sayalah orangnya&#8221;.<br />
Orang-orangpun melongo, melotot, dan tak mampu berkata-kata. Mereka bertanya? Apakah benar? Apakah mereka tak salah lihat? Gadis itu kan jelek sekali, sementara wanita di depan mereka itu amat anggun, amat cantik.<br />
Wanita tersebut berkata, &#8220;Saya merasa cantik, ketika saya mengetahui bahwa suami saya menghargai saya dengan jumlah yang amat tinggi. Saya sadar bahwa dia berusaha berkata bahwa saya cantik, bukan seperti apa kata orang, tetapi karena dia mencintai saya sebesar itu. Sebagai balasannya, saya berusaha memberikan yang terbaik yang pernah saya bisa berikan, karena saya tahu, suami saya membeli saya dengan harga yang amat mahal. Saya berdandan dengan cantik, saya mengubah model rambut saya, dan berusaha menyenangkan hati suami saya. Dan inilah saya yang sekarang.&#8221;</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=218&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/agusw-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Malam Cinta</title>
		<link>http://agusw.com/AgusWahyudi-2/</link>
		<comments>http://agusw.com/AgusWahyudi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Mar 2006 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihatnya ketika Baturetno sedang basah dengan air hujan. Malam yang berkabut ketika itu, dan ia mengetuk pintu perlahan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8230;!&#8221; Cakep, saya pikir. Jauh nilainya di atas perkiraan saya sebelumnya ketika Bapak mengatakan akan ada penghuni baru di rumah ini. Kalau Gunawan yang bintang sinetron itu saya beri nilai [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihatnya ketika Baturetno sedang basah dengan air hujan. Malam yang berkabut ketika itu, dan ia mengetuk pintu perlahan, &#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8230;!&#8221;</p>
<p>Cakep, saya pikir. Jauh nilainya di atas perkiraan saya sebelumnya ketika Bapak mengatakan akan ada penghuni baru di rumah ini. Kalau Gunawan yang bintang sinetron itu saya beri nilai sepuluh, maka tentu ia akan saya beri nilai dua belas.</p>
<p><span id="more-210"></span>&#8220;Saya Dha, dari Tawangsari.&#8221; Kenalnya pada Bapak sambil menarik ujung-ujung bibirnya ke atas, membentuk senyuman. Saya pikir Bapak sudah tahu tentang itu, dan semuanya sekedar basa-basi. Bahwa akan ada orang yang ngekost di salah satu kamar di rumah ini. Seorang guru privat komputer.</p>
<p>Dan tiba-tiba saja saya ingin mengenalkan diri pada makhluk indah itu. &#8220;Saya Re, anak bungsu Bapak.&#8221; Tangan saya terulur. Saya sangat berharap dia akan menyambut, dan berlanjut dengan pandangan-pandangan&#8230; namun ternyata tangan itu mengayun lembut dan bertemu masing-masing tapak tangannya di depan dadanya sendiri.</p>
<p>&#8220;Oh, senang sekali bisa berkenalan langsung dengan putri Pak Sadar.&#8221;</p>
<p>Tangan saya menggantung, membuat wajah saya merah jambu. Ketus, batin saya.</p>
<p>Itu kesan pertama kali, namun segera terusir setelah saya mengenal Mas Dha. Umurnya sekitar jigo. Belum tua benar untuk saya kenalkan dengan teman-teman saya di sekolah. Dan karena itu saya suka mencari-cari alasan agar Mas Dha bersedia ke sekolah saya. Kadang-kadang dengan alasan sakit, minta dijemput, atau rapat wali murid, atau.. ah, kemudian Mas Dha banyak membimbing saya dalam belajar, banyak mengerti problem-problem saya, dan bahkan terkesan saya sangat manja kepadanya.</p>
<p>&#8220;Mas sudah punya pacar?&#8221; tanya saya nekad. Bloon kalau saya menganggap Mas Dha pacar saya, karena kendati dekat, Mas Dha tak pernah memandang saya, apalagi menyentuh saya. Saya bahkan belum berhasil menjabat tangannya, padahal saya ingin.</p>
<p>Kenekadan itu karena saya tertarik padanya. Dan dengan sabar saya mengembarakan perasaan saya untuk kemudian saya sampai pada satu kesimpulan, saya mencintainya. Saya menyukai setiap yang disukainya.</p>
<p>Bahkan lucu sekali ketika Mas Dha mengatakan kurang suka dengan pakaian warna merah menyala, saya ikut-ikutan memberantas pakaian saya yang mengandung warna itu, hingga betul-betul habis. Dan sebagai gantinya saya ganti kepada warna krem dan coklat susu kesenangan Mas Dha. Mas nggak suka sinetron, dan itu membuat saya memiliki banyak waktu untuk belajar yang dulu tersita habis untuk nonton TV.</p>
<p>Suatu ketika saya ditegur Mas Dha, ketika saya bangun lewat jam setengah enam. &#8220;Udah Shubuh belum?&#8221; Busyeeet! Apa Mas nggak tahu kalau saya tidak pernah sholat seperti kebanyakan teman-teman saya? Namun barulah saya perhatikan Mas Dha sangat memperhatikan sholatnya. Saya seorang Islam, namun saya pikir, saya belum menjadi pemeluknya selama ini. Namun tak apalah, saya memulai sekarang karena saya lihat Mas Dha bangga dengan Islamnya. Saya pun harus bangga, kan? Saya pun mulai sholat. Menjemukan pertamanya. Namun pada akhirnya menjadi semacam kebutuhan dan menuntut untuk saya penuhi setiap waktu-waktunya.</p>
<p>Bapak membiarkan saja tingkah laku saya, dan saya yakin beliau mengerti apa yang tengah hidup dalam hati anaknya. ia membiarkan saja saya meniru-niru Mas Dha sebagaimana saya dibiarkan tidak sholat selama ini.</p>
<p>Satu hal yang saya kagumi, Mas Dha sangat dekat dengan Bapak. Kedekatan yang melebihi kedekatan Bapak dengan Mas Mus, kakak laki-laki saya yang sekarang menjadi marinir dan sangat jarang pulang.</p>
<p>&#8220;Dha itu ngajeni wong tuwo. Tahu unggah-ungguh,&#8221; puji Bapak di depan saya tanpa sepengetahuan Mas Dha, dan itu ikut membuat saya kembang kempis. &#8220;Betapa senangnya Bapak punya anak seperti Dha,&#8221; lanjut Bapak. Anak? pikir saya. Menantu gitu&#8230; <img src='http://agusw.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Suatu ketika Mas Dha pulang agak lama ke Tawangsari, negeri asalnya. Secara geografis, dengan Baturetno tidak jauh. Namun jalur transportasi seperti terputus oleh banyaknya pegunungan sehingga jalanan tak begitu nyaman. Maka untuk mencapai Tawangsari dengan angkutan umum, harus memutar lagi lwar Wonogiri, dan Sukoharjo yang di sebelh ujungnya terletak Tawangsari. Jauh. Satu minggu dihabiskan Mas Dha di sana, dan itu membuat saya kehilangan gairah. Saya menunggu mudah-mudahan Mas Dha kangen dengan saya dan pulang ke Baturetno lebih awal dari rencananya.</p>
<p>Tapi apa Mas Dha kangen dengan saya, ya? Namun saya lebih dulu menyimpulkan bahwa saya sangat mencintai Mas Dha. Karena itu saya nekad mengemukakan ini pada Mas. Tunggu saja nanti&#8230;</p>
<p>Namun mata itu menatap kejauhan dan bibirnya tersenyum. Apakah lucu keterusterangan saya? Saya pikir Mas Dha menertawakan saya. Dan karena itu membuat saya sangat sedih. &#8220;Mas jahat pada Re&#8230; !&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan begitu, Re.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa Mas menertawakan saya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas tidak menertawakanmu. Mas hanya sibuk memilih kalimat jawaban yang terbaik untuk Mas, dan untuk Re.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas tidak suka?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang Re inginkan bagaimana?&#8221;</p>
<p>Sebodo amat. Saya kadung bicara, dan rasanya tak perlu basa-basi lagi. &#8220;Saya pengin Mas Dha jadi pacar saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Re udah pingin nikah?&#8221;</p>
<p>Ini lagi. Kenapa error? &#8220;Siapa pingin nikah? Saya hanya ingin Mas jadi pacar saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pacaran itu.. bla.. bla.. bla..&#8221;</p>
<p>Ya ampun, kenapa mesti kembali ke jaman meganthropus semacam ini pemikirannya? Namun saya rasa, ada baiknya saya menyimak pembicaraan Mas Dha tentang pacaran yang haram itu. Pergaulan yang bebas itu. Konsep menundukkan pandangan itu. Tata pergaulan yang Islami itu.</p>
<p>Dan saya betul-betul menyimaknya. Heran, saya pikir. Semua sudah pernah saya dengarkan, baik di ta&#8217;lim-ta&#8217;lim, baca buku, atau lewat buletin yang sering disodorkan Maya teman sekolahku itu. Namun baru kali ini saya menyimaknya dengan sungguh-sungguh sehingga barulah saya mengerti.</p>
<p>Pagi berikutnya Mas Dha pulang lagi. Tidak pamit pada saya. Saya yakin Mas Dha marah pada saya karena pada malam harinya saya mencoba ketus padanya. Saya ingin tunjukkan pada Mas bahwa saya memiliki keberanian melawan perkataan Mas Dha.</p>
<p>Ketika itu Mas mengatakan pada saya bahwa saya harus Islam. Saya kan sudah Islam. Saya tunjukkan kartu pelajar saya, dan saya tegaskan pada Mas, data kualifikasi saya pada option agama terdiri dari lima huruf, agar jelas saya eja sekalian: I-es-el-a-em. Dan sampai dimanapun, itu akan dibaca Islam, Mas Dha malah tersenyum. &#8220;Islam dalam arti kata sesungguhnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yang bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Menyerahkan diri kita sepenuhnya dalam beragama, dan rela hidup kita diatur oleh Allah.&#8221;</p>
<p>Mas Dha membaca sebuah hadits tentang Asma&#8217; bahwa seorang wanita yang telah datang haidnya, hendaklah menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Saya paham kala Mas meninta saya memakai jilbab. Seperti Maya, mungkin. Ah, mana mungkin? Bagaimana dengan rambutku yang menurut teman-teman indah? Bagaimana dengan kaos dan bajuku yang ketat itu? Suliiiitt&#8230;</p>
<p>Saya tinggalkan Mas Dha yang terpukau dengan makian saya. Saya lebih suka tenggelam di kamar memeluk bantal. Dan hari itulah saya menangis sejadi-jadinya. Mas Dha jelek.</p>
<p>Dan kepergian kali ini membuat saya sepi. Sepi yang sangat berlipat dari sepi biasa. Saya merajuk, ternya Mas mebalas dengan kemarahan yang sama sampai meninggalkan rumah ini. Padahal saya kan berhak merajuk. Saya kan bungsu, yee&#8230;</p>
<p>Sepi itu membawa saya ke ruang belajar. Kamar yang tak begitu luas, membuat Bapak membuat ruang khusus untuk belajar para penghuni kost. Mata saya menumbuk ke meja sudut di mana rak buku Mas Dha tertata rapi. Tiba-tiba saya ingin meraihnya. Saya sangat takut kehilangan Mas. Saya kembali menangis sedih.</p>
<p>Maka di sanalah saya temukan tulisan singkat Mas Dha &#8220;Kenapa harus Mas, Re? Re harus yakin dengan skenario Allah. Re harus ikhlas dengan ketentuan Allah, karena Dialah cinta sejati itu. Selain itu semu belaka.&#8221;</p>
<p>Saya mencoba menerjemahkan kalimat Mas Dha. Kenapa saya tak mengambil cinta yang sejati saja? Kenapa saya tak mencoba mencintai Allah yang jelas tak akan sirna. Dia akan selalu membalas cinta kita dengan berlipat ganda. Dan.. saya semakin menangis. Hik.. hik.. hik..</p>
<p>Malam yang merambat dingin. Dan saya tahu dalam kesunyian yang semacam ini, Mas Dha sering bangun pelan-pelan. Mengambil air wudhlu dan sholat tahajjud di Mushola. Saya mencari tahu dan seperti saya katakan, sekarang saya menjadi sangat bersemangat untuk mencari tahu. Dan betapa berharganya sepertiga malam yang terakhir ini.</p>
<p>Allah&#8230;</p>
<p>Saya telah memutuskan untuk melepas segala ikatan cinta yang membelenggu jiwa sehingga hanya Engkau yang bertahta di jiwa saya. Saya akan selalu takut kehilangan Mas Dha jika saya meletakkan cinta saya pada Mas Dha. Saya takin karena tak ada yang akan lepas dari satu ikatan, yakni mati. Lalu saya bergidik mengingat maut.</p>
<p>Saya telah putuskan untuk bersabar melayarkan rindu saya di sepertiga malam terakhirMu yang saya eja, mencoba saya eja. Nikmaat sekali&#8230;</p>
<p>Sedangkan ini entah malam yang keberapa. Saya tak lagi menghitung hari seperti waktu lewat. Saya mencoba tak mengharapkan Mas Dha lagi, kendati kadang-kadang masih juga ingin. Saya telah mintakan padaMu ya Kekasih, Cintaku. Agar jangan Kau hadirkan dia lagi jika itu tak baik buat saya. Atau hadirkan segera jika memang Kau pandang baik untuk saya.</p>
<p>Selamat malam, Cinta.. Ini entah malam yang keberapa. Saya telah mengambil satu langkah, semoga dalam ridhaMu.</p>
<p>Agak aneh, karena di meja depan saya melihat terang lampu yang tak biasanya pada malam-malam begini. Ada ucapan-ucapan lirih yang sesayup sampai. Saya tergoda untuk mendekat.</p>
<p>&#8220;Jadi kamu akan segera menikah?&#8221; tanya Bapak kepada&#8230; Ya Rabb.. saya segera mengenali suara Mas Dha.</p>
<p>&#8220;Betul, Pak. Ingin sebenarnya seperti niat Bapak untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan ini dengan menikahi putri Bapak. Tapi saya memutuskan untuk menikah sekarang. Saya membutuhkan pendamping segera, dan itu kecil kemungkinan karena Re masih sekolah.&#8221;</p>
<p>Alasan yang diplomatis saya rasa. Dan tiba-tiba saya berdebar. Jadi Bapak punya rencana ini sebelumnya? Oh, Bapakku..</p>
<p>&#8220;Tidak apa-apa, Dha. Hanya mungkin Bapak harus menyimpan keinginan Bapak untuk memiliki anak sepertimu.&#8221;</p>
<p>Getir suara Bapak. Mungkin segetir perasaan saya. Tentu Mas Dha telah memiliki pilihan yang lebih baik dari saya. Seorang muslimah yang tawadhu&#8217; dan penuh pengabdian.</p>
<p>&#8220;Bapak..! Saya tentu anak Bapak. Anggaplah saya sebagai anak, dan seterusnya semacam itu, karena saya juga menganggap Bapak sebagai Bapak saya sendiri.&#8221;</p>
<p>Saya kuatkan hati saya. Malam ini saya mulai kenakan baju taqwa saya. Saya memutuskan memakainya lewat pemikiran panjang. Dan itu saya laksanakan akhirnya malam ini. Saya malu-malu melangkah menemui Mas. Dan anggaplah saya tetap sebagai adikmu, Mas.</p>
<p>Sungguh..! Saya ingin membuktikan bahwa cinta saya tertuju lurus untuk Allah saja.</p>
<p>Buat semua yang sedang dilanda asmara, kamu masih merasa diawasi Allah, kan?</p>
<p>Oleh:Sakti Wibowo</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=210&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/AgusWahyudi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Dalam Dekapan Malam September</title>
		<link>http://agusw.com/AgusWahyudi-4/</link>
		<comments>http://agusw.com/AgusWahyudi-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Mar 2006 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Ujung malam bercerita&#8230; Senyum itu senantiasa hadir dalam setiap lamunanku, seakan hendak menguliti jiwaku yang sebenarnya memang kerdil. Padahal, tak ada yang istimewa pada dirinya meski bibirnya merah tapi masih kalah dengan bibir bintang sinetron pujaan adikku, tapi satu yang pasti bahwa bibir itu pernah mengajarkanku bahwa doa bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses untuk [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ujung malam bercerita&#8230;</p>
<p>Senyum itu senantiasa hadir dalam setiap lamunanku, seakan hendak menguliti jiwaku yang sebenarnya memang kerdil. Padahal, tak ada yang istimewa pada dirinya meski bibirnya merah tapi masih kalah dengan bibir bintang sinetron pujaan adikku, tapi satu yang pasti bahwa bibir itu pernah mengajarkanku bahwa doa bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses untuk mempertegas usaha, lentik jemarinya tak pernah terasa lembut dengan gerak gemulai yang kerap hadir dalam setiap geliat lekuk tubuhnya, seakan menampar keberanianku untuk angkuh.<br />
<span id="more-208"></span><br />
Malam beranjak mengapuri matahari dalam temaram jingga warna senja menuntun jiwaku untuk mengucap salam pada Pencipta, meski ku selalu sadar kalau ikhlasku tak pernah ada dalam setiap sujud, tapi aku berpikir bahwa gerak kemanusiaankulah yang mengharuskanku untuk melakukannya.</p>
<p>Kembali senyum itu menembus khayalku mengoyak nadi lewat lekat tatapannya samar terlihat dibalik rimbun pohon akasia, tak pernah kusangka kembali ku melihatnya, meski bayangnya tak pernah luput dari anganku, tapi untuk bertemu&#8230; ku tak pernah berharap&#8230;</p>
<p>Malam itu cahaya bulan membaluri tubuhnya dalam balutan gaun sederhana yang menutupi seluruh auratnya. Kerudung putih yang menutupi kepalanya mengisyaratkan kuat hatinya, semua kuperhatikan dengan seksama. Sapaan lembut mengucap salam terlontar dari bibirnya ketika hendak berpamitan pada kawannya, semua terasa cepat, dia berlalu dan hilang dari pandanganku. Tinggallah aku termenung mengumpat kebodohanku, mengapa tak menyapanya. Kuhisap dalam batang rokokku dan menghembuskan berat asapnya ke langit-langit kamarku seperti seorang perawan yang enggan melepas kesuciannya.</p>
<p>Kududuk di atas dipan sambil melihat seisi kamarku yang sudah dua semester aku tempati, kamar berukuran tiga kali tiga meter yang hanya sesekali kubersihkan sehingga sering tampak berantakan oleh tumpukan pakaian kotor yang belum sempat dicuci dan kertas-kertas tugas kuliah yang berserakan tidak karuan serta debu di lantai yang sedikit tebal dan menghampar bagai permadani. Sepatu bola milik kawanku yang belum sempat kukembalikan masih utuh di bawah meja, pintu kubiarkan terbuka setengah untuk memberi kesempatan bulan menyinari kamarku yang memang agak gelap, maklumlah aku hanya memasang lampu pijar 10 watt. Tapi bukan berarti kamar ini sarang maksiat atau tempat berkumpulnya perempuan nakal, hanya karena beban listrik (yang katanya bulan depan akan naik lagi) pada setiap rumah harus dikurangi saat beban puncak. Hembusan angin membuaiku dalam lamunan tak berujung, memaksaku untuk menguap menahan kantuk. Aku beranjak dari dudukku menuju pintu dan menguncinya lalu rebah di atas dipan kayu yang sepreinya sudah kumal dan di ujungnya terdapat banyak kain perca tambalan warnanya pun sedikit pudar tapi tetap bersih dan terasa nyaman. Aku memang dilahirkan dari rahim orang miskin, tapi itu bukan alasan bagiku untuk mengumpat hidup, meski hantamannya kadang menyebalkan dan memaksaku untuk selalu siap dengan belati kesabaran, karena hadirnya terkadang muncul dalam wujud Rahwana yang memaksaku untuk bertarung di padang Kurusetra.</p>
<p>Mataku kupaksa terpejam dan berusaha terlelap, berharap dapat bermimpi dan bertemu dengan senyum itu lagi. Semoga&#8230;</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=208&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/AgusWahyudi-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu</title>
		<link>http://agusw.com/khajeya-lavista-22/</link>
		<comments>http://agusw.com/khajeya-lavista-22/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2005 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Siang kota Bogor hari itu begitu cerah. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya dengan sinar matahari yang sekedar menerangi. Lalu lalang manusia di sepanjang trotoar tak kalah ramai dengan mobil-mobil yang berhamburan di badan jalan aspal. Rupanya suasana yang sedikit berbeda ini tak ingin dilewati begitu saja, dengan ceria mereka menikmati hari. Orang-orang terlihat lebih [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang kota Bogor hari itu begitu cerah. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya dengan sinar matahari yang sekedar menerangi. Lalu lalang manusia di sepanjang trotoar tak kalah ramai dengan mobil-mobil yang berhamburan di badan jalan aspal. Rupanya suasana yang sedikit berbeda ini tak ingin dilewati begitu saja, dengan ceria mereka menikmati hari. Orang-orang terlihat lebih bersemangat hari itu.<br />
<span id="more-9"></span><br />
Begitu pula dengan seorang gadis ayu di sebrang jalan sana. Dengan tas di pundak kirinya dan beberapa buku dalam pangkuan tangannya, gadis itu berdiri tenang menanti mobil jemputannya untuk menuju pulang. Angin sepoi-sepoi yang menerpa rambutnya membuat ia tampil lebih anggun. Wajah ayunya terus tertepa udara sejuk hari itu. Dan tetap bertahan anggun hingga seluruh kawan-kawan sekampusnya pergi meninggalkannya seorang diri.</p>
<p>Hari semakin sore, pelataran kampus sudah mulai sepi. Orang-orang yang berlalu lalangpun mulai surut. Entah untuk yang keberapa kali gadis itu menatap jam di pergelangan tangannya sambil sesekali memainkan ponselnya. Wajahnya mulai tampak gusar ketika matahari mulai memerah. Lalu tampak tangannya mulai melambai pada kendaraan-kendaraan umum, namun tak satu pun yang berhenti. Hampir setiap kendaraan yang melalui jalan itu selalu penuh jika hari mulai menuju malam minggu. Ia tampak semakin kesal saja.</p>
<p>Hari benar-benar telah senja. Lampu-lampu di sepanjang sisi jalan telah menyala. Gadis itu tetap saja tak mendapat tumpangan pulang. Sesaat ia menarik nafas lega ketika sebuah kendaraan umum berhenti menyambut lambaian tangannya, namun tiba-tiba tersentak terkejut mendengar sebuah klakson panjang dari sebuah sedan hitam di ujung jalan. Ia hafal betul mobil itu. Dengan tersenyum ia berucap, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, Mang, tidak jadi, mobil jemputan saya sudah datang.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Senyumannya dibalas kecut oleh supir kendaraan umum tersebut, dan sambil membanting setirnya, mobil itu kembali melaju di jalan raya.</p>
<p>Dalam hitungan detik, mobil yang dinantinya sudah berada di hadapannya. Tapi, tak seperti biasa, mobil itu hanya berhenti saja. Tak ada sopir yang keluar untuk membukakan pintu pada majikannya itu. Dengan sedikit kesal, gadis itu membuka sendiri pintu depan mobil itu, lalu masuk ke dalamnya tanpa menoleh sedikitpun pada sang sopir. Rupanya gadis itu mulai kesal. Namun, tetap saja jiwanya yang ramah tetap terpancar dengan terbungkamnya mulut sang gadis itu dari sebuah omelan pun. Bahkan ia tetap memilih duduk di depan bersama sang supir, tanda ia sangat menghargai sopirnya itu, tak seperti banyak orang yang enggan duduk bersama sopirnya.</p>
<p>Belum sempat ia menikmati duduknya, tiba-tiba ia harus dikejutkan lagi oleh laju kendaraannya sang sangat mendadak. Sesaat gadis itu berteriak terkejut, namun tersendak melihat wajah orang yang memegang kendali mobilnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Hei! Siapa kamu?! Kemana mang Udin?! Hei! Hentikan mobil ini! Hentikan!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, teriak gadis itu, namun tak dipedulikan oleh pemuda yang mengemudikan mobil itu, malah kecepatan mobil itu semakin ditambah. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Hei, cukup! Hentikan! Hentikan mobil ini! Hentikan!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, teriak kembali gadis itu yang tetap tak dipedulikan oleh pemuda yang memegang setir di sampingnya. Mobil itu terus melaju pada kecepatan tinggi melintasi jalan kota. Lalu tiba-tiba berhenti disebuah taman kota. Tanpa menoleh pada gadis di sebelahnya, ia menghentikan mobil itu begitu saja, lalu terdiam. Gadis itu dengan dahi mengkerut dan wajah yang geram tetapi takut itu pun turut terdiam. Sambil mencoba menarik napas lega, gadis itu bertanya setengah teriak, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Siapa kamu?! Apa maumu?! Kemana mang Udin?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>Mendapat tubian pertanyaan yang dengan teriakan itu, pemuda itu tetap tenang. Lalu sambil berkata tenang, ia mulai menatap wajah gadis itu, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“StttÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Tak perlu berteriak, aku bisa mendengar suaramu dengan jelasÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ TenanglahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ta.. Tapi, siapa kamu?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya gadis itu kembali.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Aku adalah cintaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab lelaki itu masih dengan tenang.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Cinta?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, dahi gasis itu semakin mengerut.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih pemuda itu menyebutkan sebuah nama.</p>
<p>Gadis itu terkejut setengah mati mendengar sebuah nama itu. Wajahnya yang telah memerah sejak tadi semakin memerah. Matanya yang semula menggambarkan amarah dan ketakutan kini berubah menjadi berkaca-kaca. Dalam hidupnya hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggilanya dengan sebutan itu, Dhillah.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kha.. KhajeÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya lirih gadis itu seakan tak percaya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya, ini aku, DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab pemuda itu sembari mencoba memeluk tubuh gadis itu yang tak segera dibalas, namun gadis itu diam saja tak percaya pada apa yang dialaminya saat itu. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih pemuda itu lagi tepat di sisi telinga wanita itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kha.. KhajeÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, gadis itu kini membalas pelukan lelaki itu dengan pelukan yang sangat erat. Namun pelukan itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba gadis itu melepaskan pelukannya, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ti.. Tidak! Tidak!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, teriaknya kembali sembari berusaha membuka pintu mobilnya sambil berlari cepat menjauh.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah! Tunggu!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, kini lelaki itu turut berteriak memanggil Dhillah sambil berusaha menyusul lari gadis itu.</p>
<p>Belum terlalu jauh dari area taman kota itu, Khaje telah berhasil menggapai tubuh Dhillah.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah! Jangan pergiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â lirih Khaje sesaat setelah berhasil merengkuh tubuh Dhillah dan memeluknya erat. Dhillah tidak berkata-kata untuk sesaat, yang terdengar hanyalah tangisan derasnya. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih Khaje kembali.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ti.. Tidak mungkin! Tidak mungkin!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â teriak Dhillah dalam isakannya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maafkan aku, DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih Khaje menjawab teriakan Dhillah sambil melepas pelukannya dan menatap dalam wajah Dhillah.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kemana saja kamu selama ini?! Kamu pergi begitu saja! Tidak ada kabar, tidak ada surat! BahkanÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ bahkan aku mengira kamu sudah matiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dan kiniÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ begitu saja kamu datang kembaliÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Kamu pikir semudah itu kamu dapat mempermainkan aku?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, dalam tangisannya Dhillah terus berkata-kata, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Cinta itu sudah hilang bersama kepergianmu! Sekarang akuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ akuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ aku sudah tidak mencintaimu lagi! Sebaiknya kamu pergi saja sekarang! Pergi dari hidupku dan tidak usah menggangguku lagi! Apa sebenarnya yang kau mau dariku?! Aku mohon jangan ganggu hidupkuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“StttÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Sejak dulu kamu tak pantas dan tak pernah pantas untuk marahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Kamu terlalu anggun dan baik untuk ituÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Kebencianmu hanya sesaatÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dan aku tahu, amarahmu akan segera redaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Segera redaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Sesaat setelah kemarahanmuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dan kamu akan kembali seperti semulaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih Khaje yang disertai dengan terdiamnya Dhillah. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Aku sayang kamuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Aku cinta kamu, Dhilah.. Maafkan akuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Khaje sembari memeluk tubuh Dhillah. Tak seperti sebelumnya, kali ini Dhillah langsung membalas pelukan Khaje, lebih erat dari sebelumnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Aku juga cinta kamuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih Dhillah.</p>
<p>Keajaiban dari sesuatu yang ada dalam diri sepasang anak manusia terpancar malam itu ditengah kota Bogor. Sampai larut mereka membayar rindu yang tertunda selama bertahun-tahun. Tak banyak kata yang terucap dari mereka malam itu. Sejuk udara kota Bogor cukup menjadi pencerita tentang rindu sepasang hati.</p>
<p>* * *</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Khaje, maaf aku tak bisa mengatakan ini semua langsung kepadamuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Bacalah surat ini..ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lirih Dhillah dengan mata yang berkaca-kaca, lalu pergi meninggalkan Khaje.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, teriak Khaje memanggil Dhillah. Dhillah terus melaju dan melaju. Tak menoleh sedikitpun. Hingga hilang tertelan jarak. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Ada apa ini?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, galau Khaje dalam berdirinya menatap jejak langkah Dhillah.</p>
<p>Dengan resah ia membuka surat itu dan membacanyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦</p>
<p>Masa kanak-kanak itu kini sudah tiada lagi. Kita telah sama-sama dewasa! 8 tahun rupanya bukanlah waktu yang sebentar. Ia telah berhasil merubah segala yang kita lihat. Rumput-rumput itu kini sudah menjadi aspal. Pagar bambu yang dulu mudah kita rusak kini sudah menjadi tugu beton kokoh yang angkuh. Segalanya sudah berubah sekarang, dan semuanya tak bisa kembali lagi, termasuk masa kanak-kanak kita dahulu. Angin sepoi-sepoi yang dulu berhembus kini sudah menjadi badai. Dan jika cinta tak mampu menghentikan badai itu, lebih baik kita yang berganti arah.</p>
<p>Dhillah</p>
<p>Seakan remuk hati Khaje membaca itu semua. Seorang Dhillah tidak mungkin seperti ini, hal itu yang pertama terbesit di hati Khaje. Dalam kesendiriannya ditengah rumput luas yang tanpa Dhillah, Khaje berucap lirih, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tuhan, jika memang benar masa kanak-kanak itu tak bisa kembaliÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Paling tidak izinkanlah cinta itu kembaliÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dan jika cinta tak mampu menghentikan badaiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Izinkan cinta itu turut mati bersama badai itu, hingga aku takkan menemukan cinta itu lagiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Tapi, aku yakin, cinta mampu menghadapi segalanyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Ya, walaupun harus mati didalamnyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ TuhanÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â. Khaje lalu meremas secarik kertas yang tadi dibacanya, lalu dengan senyum yang entah menyiratkan apa ia melangkah menyusul langkah Dhillah yang entah telah sampai manaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=9&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/khajeya-lavista-22/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu</title>
		<link>http://agusw.com/khajeya-lavista-23/</link>
		<comments>http://agusw.com/khajeya-lavista-23/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2005 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring. Dhillah berjalan terburu-buru, bahkan hampir berlari. Wajahnya penuh dengan amarah dan kekecewaan. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah! TungguÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â teriakan Jeje seolah tak didengarnya. Dhillah terus melaju tanpa menoleh. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Tunggu dulu! Ada apa ini?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tiba-tiba langkah Dhillah tertahan oleh sepasang tangan yang memegang erat pundaknya. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sudahlah! Tidak ada lagi yang harus dijelaskan. [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring. Dhillah berjalan terburu-buru, bahkan hampir berlari. Wajahnya penuh dengan amarah dan kekecewaan. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah! TungguÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â teriakan Jeje seolah tak didengarnya. Dhillah terus melaju tanpa menoleh. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Tunggu dulu! Ada apa ini?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tiba-tiba langkah Dhillah tertahan oleh sepasang tangan yang memegang erat pundaknya.<br />
<span id="more-10"></span><br />
ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sudahlah! Tidak ada lagi yang harus dijelaskan. Dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â kata-kata itu mengalir lancar dari lidah Dhillah sambil menatap Jeje penuh kebencian.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ta.. tapiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ ada apa ini?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Jeje mengerutkan dahinya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tolong jangan lagi mengganggu aku! Sejak saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Dan itu pilihan kamu! Selamat tinggal!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â seluncuran kata kembali terucap oleh Dhillah sebagai jawaban atas pertanyaan Jeje. Lalu ia pergi dengan cepat meninggalkan Jeje yang berdiri kaku penuh kebingungan.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah..! Dhillah..!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â kembali Jeje memanggil Dhillah yang terus menjauh dan menjauh, namun Dhillah tetap berlalu.</p>
<p>***</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kring.. Kring..ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â dering telepon berbunyi nyaring. Dhillah mengangkat telepon itu dengan penuh enggan.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“HalooÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dhillah?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â suara lirih diujung telepon sana ketika telepon diangkat. Dhillah diam tak menjawab suara itu. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah.. Please.. Kita harus bicaraÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tut&#8230; TutÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ TutÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tiba-tiba telepon terputus. Jeje yang berada disudut telepon sana mencoba kembali menghubungi telepon Dhillah, namun tak ada lagi yang mengangkatnya. Beberapa kali dicobanya, hasilnya tetap nihil.</p>
<p>***</p>
<p>Bel istirahat berbunyi lantang, membuat suasana sekolah menjadi ramai seketika. Jeje mencoba menghampiri dan menyapa Dhillah. Namun seperti orang yang belum mengenal, Dhillah tidak menanggapi sapaan Jeje. Ia begitu beku. Sementara Jeje hanya dapat berdiri kaku. Sampai seluruh jam pelajaran hari itu habis dan seluruh sekolah telah sepi, Jeje terus termenung disudut kelas, sementara Dhillah tetap beku dan tak tahu tengah berada dimana.</p>
<p>***</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Haloo..ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Dhillah menganggkat teleponnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah, please.. Kita harus bicaraÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tut&#8230; Tut&#8230; TutÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Dhillah langsung menutup teleponnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Haloo..ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Dhillah kembali mengangkat gagang teleponnya ketika teleponnya kembali berbunyi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DhillahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Please, hentikan semua iniÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ AkuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tiba-tiba telepon kembali terputus.</p>
<p>Telepon kembali berbunyi, Dhillah kembali mengangkat teleponnya. Belum sempat terucap kata halo, suara diujung telepon sana telah mendahului, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah, baiklah, aku minta maaf jika aku bersalah, tapiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lagi-lagi telepon ditutup oleh Dhillah.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kring.. Kring.. KringÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, suara telepon menggema ke seluruh sudut rumah Dhillah, namun tak juga diangkatnya, dan deringan-deringan selanjutnya tak lagi terdengar seiring dengan diputusnya kabel telepon oleh Dhillah.</p>
<p>***</p>
<p>Tiga hari berlalu, Dhillah tetap beku dan seolah tak mau lagi mengenal seseorang yang bernama Jeje. Ia terus menghindar dari Jeje, bahkan walau Jeje telah berusaha mendekatinya sekalipun. Jeje tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia terus termenung memikirkan Dhillah. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah.. Ada apa sebenarnya ini?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â lirih Jeje dalam hati sambil duduk sendiri di satu sudut sekolahnya.</p>
<p>Lalu mata Jeje menatap tajam pada sekumpulan bunga-bunga mekar dihalaman sekolah. Ia melirik ke segala arah, tak ada penjaga kebun, tak ada guruÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ahh, aman..ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Jeje sendiri, lalu memetik sebuah bunga melati dan membawanya kebelakang sekolah. Dirobeknya secarik kertas dari buku tulisnya, lalu ia menulisinya, dan menempelkanya pada tangkai melati itu.</p>
<p>Diakhir jam sekolah, Jeje berlari cepat mengejar Dhillah, lalu berdiri dihadapannya. Kedua tangan Jeje menghalangi Dhillah yang mencoba untuk terus menghindar.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dhillah! Dhillah! Baik jika memang itu yang kamu mau. Tapi aku mohon untuk yang terakhir kalinya, terimalah bunga ini, maka aku berjanji takkan mengganggu hidupmu lagi!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Jeje sambil menatap tajam mata Dhillah. Dhillah membalas menatap Jeje dengan tak kalah tajam, namun mulutnya tetap bungkam seolah bisu. Jeje kemudian menarik tangan kanan Dhillah, digenggamkannya sepucuk melati itu ke tangan Dhillah, lalu Jeje berlalu pergi meninggalkan Dhillah yang masih berdiri kaku di tempatnya setelah dihadang Jeje sebelumnya.</p>
<p>Dhillah menatap tajam melati yang tengah digenggamnya itu, lalu membuka secarik kertas yang menempel pada tangkai bunga itu. Dalam kertas itu tertulis :</p>
<p>Dhillah, sepucuk melati ini untukmu. Lihatlah melati ini. Melati ini penuh dengan noda dan bercak hitam karena asap knalpot. Begitu juga dengan cinta. Jika ada cinta yang bersih tanpa noda, itu bukan cinta, tapi kepalsuan. Cinta penuh dengan halang dan rintang, yang jika kita mampu menghadapinya, itulah kesejatian cinta.</p>
<p>Jeje</p>
<p>Dhillah membaca tulisan itu, kemudian menggenggam erat sepucuk melati yang memang tengah digenggamnya. Sementara Jeje telah menghilang dari pandangan, pulang ke rumah dengan penuh kekecewaan dan kehampaan.</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=10&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/khajeya-lavista-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu</title>
		<link>http://agusw.com/khajeya-lavista-24/</link>
		<comments>http://agusw.com/khajeya-lavista-24/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2005 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ima wa mada kanashii love song atarashii uta utaeru madeÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lantunan merdu lagu First Love-nya Utada Hikaru malam itu tiba-tiba bergema dari satu kamar di sebuah rumah kosan mungil. Jeje tengah berada di ruang tamu tampak mengahayati benar setiap bait dari lirik lagu tersebut. Secangkir kopi panas mengepul di atas meja, menemaninya duduk di sofa [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ima wa mada kanashii love song atarashii uta utaeru madeÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, lantunan merdu lagu First Love-nya Utada Hikaru malam itu tiba-tiba bergema dari satu kamar di sebuah rumah kosan mungil. Jeje tengah berada di ruang tamu tampak mengahayati benar setiap bait dari lirik lagu tersebut. Secangkir kopi panas mengepul di atas meja, menemaninya duduk di sofa bututnya itu.<br />
<span id="more-11"></span><br />
ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“CieÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦, kenapa loe? Lagi jatuh cinta atau lagi patah hati tiba-tiba nyetel lagu kayak ginian segala? Atau jangan-jangan loe lagi sakit?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tiba-tiba Panji muncul dari balik pintu kamarnya, lalu duduk tak jauh dari tempat Jeje terduduk</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Enak aja loe bilang gue lagi sakit!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Jeje singkat tidak begitu menanggapi pertanyaan Panji.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“YeeeÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Abis, nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba loe jadi melo gini.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â komentar panji lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, Ji, loe percaya nggak kalo cinta pertama itu nggak akan pernah mati?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Jeje justru membalas komentar Panji dengan satu pertanyaan. Wajah Jeje tampak serius.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya percaya nggak percaya sihÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Tapi kalo iblis itu nggak akan pernah mati sampai kiamat, gue percaya.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â jawab Panji enteng.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Gue nanya serius tahu!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â gerutu Jeje mendengar jawaban Panji.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Yeee, gue juga serius tahu! Iblis itu nggak akan pernah mati sampai kiamat.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya! Dan loe iblisnya!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, Jeje kesal dengan ketidakseriusan Panji.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“DeuuhhhÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Segitu sewotnyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Oke deh, oke. Kita serius. So, pertanyaan apa tadi yang mau loe ajukan?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ungkap Panji sambil meraih kopi Jeje lalu meminumnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, kopi gue tuh!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Bagi sedikit, jangan pelit kayak iblis gitu dongÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ HeheheÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dasar cucu iblis!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â lalu Jeje bangkit dari duduknya dan beranjak masuk kekamarnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, mau kemana loe? Nggak jadi bertanyanya?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tanya Panji.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Mau tidur! Percuma gue nanya sama iblis, jawabannya pasti menyesatkan!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â jawab Jeje enteng, lalu menutup pintu kamarnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Itu berarti kopi ini buat gue semuanya dong? Makasih, loe emang iblis paling baik yang pernah gue kenalÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ HeheheÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Terserah!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tiba-tiba Jeje muncul dari balik pintu kamarnya, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh! Tapi jangan lupa cuci tuh gelas!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Jeje singkat lalu kembali menutup pintu kamarnya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oke deh kakak, tapi loe juga jangan lupa minum obat cacing yaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ HeheheÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“OyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, teriak Jeje dari dalam kamar, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sekalian juga cuciin piring bekas gue makan tadi ya, thank before!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Apa?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Panji balas berteriak, namun kata-kata selanjutnya tidak lagi terdengar oleh Jeje karena alunan musik yang semula pelan tiba-tiba menjadi sangat bergema dari dalam kamar Jeje.</p>
<p>Didalam kamar rupanya Jeje tidak langsung tertidur. Pandangannya kembali menerawang. Lalu tak lama ia beranjak ke meja belajarnya dan menulis sesuatu, Jeje tampak serius sekali menulisi kertas di hadapannya. Lalu dibacanya berulang-ulang tulisannya itu dengan mata yang berkaca-kaca sampai akhirnya ia tertidur di meja belajarnya. Isi tulisan itu :</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Bandung, 15 September 2004</p>
<p>Untuk Dina, semoga suatu saat kau membaca tulisan ini</p>
<p>Dina, aku tidak pernah tahu apakah kau akan membaca tulisan ini atau tidak, karena aku memang tidak pernah mempunyai nyali untuk mengirimkannya kepadamu. Entah aku kekanak-kanakan atau tidak, namun yang jelas sebenarnya aku sangat malu padamu dan pada diriku sendiri untuk menyampaikan semua ini padamu, menyampaikan semua hal yang telah aku pendam sesaat setelah semuanya aku hancurkan sendiri, semua hal yang aku tetap pendam karena keegoisanku.</p>
<p>Dina, maafkan jika aku kembali mengorek luka lama di hatimu, namun kau harus tahu, saat itu, saat bibir ini mengucapkan kata ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¹Ã…â€œputusÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¾Ã‚Â¢, bukan hatiku yang berbicara, melainkan keegoisan, jiwa kekanak-kanakan, dan segala kekhilafanku.Bahkan sesaat setelah itu aku begitu menyesali semua tindakanku, namun keegoisan begitu mendominasi jiwaku saat itu, sedang aku tahu kau begitu sakit dan kecewa dengan semua itu, dan kaupun harus tahu, kini aku sendiri begitu kecewa dengan diriku sendiri atas semua yang telah aku lakukan padamu.</p>
<p>Dina, bertahun-tahun aku tersesak memendam semua keegoisan ini. Bahkan aku terus membohongi diriku sendiri dengan mencari cinta di lain hati. Terakhir, aku hampir tersesat dengan penamaan cinta sejati pada satu hati yang lain. Dan malam ini aku tersadarkan pada semuanya. Mustahil aku dapat temukan kembali cintaku yang hilang jika aku mencari pada hati-hati yang lain, aku baru tersadar jika semua cinta itu telah aku berikan padamu.</p>
<p>Dina, 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dan selama itu aku gelisah! Hidupku seperti kehilangan arah tujuan. Aku begitu kacau! Mungkin sudah teramat terlambat untuk ku raih kembali cinta itu dari hatimu. Dan mungkin semua cinta itu bahkan sudah tidak ada lagi di hatimu, mungkin sudah kau buang jauh, mungkin sudah kau hancurkan dan tercecer begitu saja. Satu kekhwatiran yang sangat, aku takkan pernah dapat merangkai kembali cinta yang telah hancur berkeping-keping itu, bahkan menjadi abu dan debu! Namun bukankah cinta mampu merubah apa saja, termasuk segala kekhawatiranku itu? Ya, dengan cinta, kekhawatiran itu bisa menjadi tidak beralasan. Kesaktian cinta mampu mengabulkan segala permintaan, dan dengan restumu tentunya aku akan bisa merangkai kembali semua kepingan, abu, dan debu itu menjadi satu kesatuan yang utuh. Dan atas nama cinta, aku akan terus berjuang mengembalikan segalanya meskipun harus kunikmati sendiri.</p>
<p>Dina, kau berhak untuk membalas semuanya. Dengan tetap tertutupnya restumu, semua kekhawatiran dan mimpi burukku akan menjadi nyata, dan aku akan terima semuanya selama itu memang memuaskan dan membahagiakanmu. Namun aku yakin, peri kasih dalam dirimu akan tetap bijaksana, dan apapun kebijaksanaan itu, sekali lagi, harus aku terima.</p>
<p>Dina, tak ada salahnya bukan jika aku berharap masih bisa menikmati senyummu setiap saat? Senyuman seorang Dina yang takkan usang dimakan masa. Terakhir, aku hanya dapat berdoa semoga Tuhan mau membukakan pintu hatimu untukku.</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=11&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/khajeya-lavista-24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu</title>
		<link>http://agusw.com/khajeya-lavista-25/</link>
		<comments>http://agusw.com/khajeya-lavista-25/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2005 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Jam kuliahku begitu padat! Gerah aku dengan semua ini. Praktikum, tugas, quiz, seakan tiada akhirÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Ah, begitu penat hidupku hari ini, dan selalu begitu. Dengan 5 buku tebal didalam tas punggungku, terasa langkah kaki ini semakin berat. Asap polusi seakan membuatku ingin berteriak namun sesak. Ribuan pasang kaki yang melangkah disekelilingku terasa berbeda dari biasanya. [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jam kuliahku begitu padat! Gerah aku dengan semua ini. Praktikum, tugas, quiz, seakan tiada akhirÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Ah, begitu penat hidupku hari ini, dan selalu begitu.</p>
<p>Dengan 5 buku tebal didalam tas punggungku, terasa langkah kaki ini semakin berat. Asap polusi seakan membuatku ingin berteriak namun sesak. Ribuan pasang kaki yang melangkah disekelilingku terasa berbeda dari biasanya. Aku sedikit mengeluh melihat langit yang mulai mendung sore ini sambil mempercepat langkahku. Tas punggungku terasa semakin berat dengan buku-buku itu didalamnya.<br />
<span id="more-7"></span><br />
Sial! Akhirnya aku kalah juga dengan waktu. Hujan turun. Orang-orang disekelilingku berlarian mencari tempat berteduh, atau sedikit menghindar dari guyuran hujan sore ini.</p>
<p>Ditengah keramaian manusia, tiba-tiba aku melihat sebuah wajah yang pernah sangat kukenal. Aku mengernyitkan dahiku. Dhillah! Aku masih mengingat nama dari pemilik wajah itu. Langkah kaki yang hendak berlari ini menjadi kaku. Dalam guyuran air hujan aku terpaku menatap wajah itu, lalu tak lama wajah itupun lenyap dalam keramaian manusia yang saling berlari menghindari deras air hujan.</p>
<p>Aku tetap terpaku seorang diri ditengah hujan. Tak peduli seluruh pakaian, bahkan buku-buku dalam tasku menjadi basah. Yang kurasakan hanyalah sakit, ya, sakit. Begitu tersayatnya hati ini! Tubuhku seperti beku dalam terpaan hujan.</p>
<p>Betapa kecewanya aku sore ini. Usaha yang sangat lama dan begitu sulit untuk melupakannya menjadi sia-sia. Ya, hanya karena meihat wajah yang hanya selintas saja!</p>
<p>Dhillah, betapa teganya kau menyakiti hati kembali! Lebih sakit dari sebelumnya! Lama aku berjuang hanya untuk membuang ingatan dalam diriku akan dirimuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Tapi, dengan begitu mudahnya engkau mengembalikan segalanya, menarik kembali semua ingatan yang telah lama kubuang!</p>
<p>Dengan sulit aku melupakanmu, bahkan hampir tak mampu! Dengan sangat sulit kurobek semuanya tentangmu, kuhancurkan hingga berkeping-keping, lalu kubiang tanpa sisa ke deras air sungai, hingga terus terbawa ke laut lepas dan terapung-apung diatasnya, hingga tiada lagi seorangpun yang menemukannya.</p>
<p>Sial! Setelah bertahun-tahun, rupanya matahari telah menguapkan air laut, dan kau terbawa bersama uap itu hingga mengapung dan membeku diatas langit dalam wujud awan mendungÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Dan, kini awan mendung itu telah membasahi seluruh tubuhku, dan kau lagi-lagi hadir dihadapankuÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦!</p>
<p>Sementara hujan telah reda, langit kembali cerah, orang-orang kembali dengan tenang berlalu lalang, dan kau telah lenyap ditelan keramaian, aku masih terpaku dengan pakaian yang basah dan dengan semua ingatan yang kembali. Teganya kau! Aku benci kamu!</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=7&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/khajeya-lavista-25/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Benci Kamu</title>
		<link>http://agusw.com/khajeya-lavista-26/</link>
		<comments>http://agusw.com/khajeya-lavista-26/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2005 00:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Agus Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Jey, itu dompet siapa, Jey?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Opik setelah melihat sebuah dompet tebal tergeletak di pinggir jalan sepulang dari kampus. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Wah, kayaknya dompet yang jatuh dehÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Ajey cuek, berbarengan dengan diambilnya dompet itu oleh Opik. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Wah, gila, Jey, isinya banyak bangetÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik takjub. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Emangnya berapa?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Ajey. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Mungkin dua jutaan lebih, JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Opik. [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Jey, itu dompet siapa, Jey?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Opik setelah melihat sebuah dompet tebal tergeletak di pinggir jalan sepulang dari kampus.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Wah, kayaknya dompet yang jatuh dehÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Ajey cuek, berbarengan dengan diambilnya dompet itu oleh Opik.<br />
<span id="more-8"></span><br />
ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Wah, gila, Jey, isinya banyak bangetÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik takjub.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Emangnya berapa?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Mungkin dua jutaan lebih, JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Gila, banyak bangetÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, Jey, ada fotonyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Opik sambil terus memeriksa isi dompet.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, gila, cantik banget. Wah, Pik, kayaknya kita harus balikin dompet ini deh.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tapi, JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Udah, uang bisa di cari, tapi kenalan sama cewek secanti iniÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ kapan lagi?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oke deh, Jey. Tapi kemana kita harus balikin dompet ini?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, bingung Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya, loe lihatlah didalamnya, ada KTP atau kartu namanya nggak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>Tanpa menjawab, Opik langsung memeriksa kembali dompet itu. Didalammnya tampak ada beberapa kartu ATM dan kartu kredit, serta sebuah KTP dan kartu nama atas nama Santi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Yap, ada Jey. Nama cewek itu Santi. Ini kartu namanya. Kapan kita mau balikin dompet ini?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Wah, kalau sekarang udah kesorean, gimana kalau besok saja?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, saran Ajey di jawab dengan anggukan Opik tanda setuju.</p>
<p>* * *</p>
<p>Pada waktu yang disepakati, Ajey dan Opikpun tampak tengah bersiap berangkat untuk mengembalikan dompet yang ditemukannya kemarin ke alamat yang tertera di KTP yang ada didalam dompet itu. Dengan sandal jepit, kaos oblong, dan celana jeans, mereka menaiki angkot menuju alamat yang di maksud.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kayaknya ini deh Jey rumahnyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, yakin Opik sambil menyesuaikan alamat yang ada dalam dompet pada nomor rumah yang terpampang besar disebuah pintu pagar menjulang tinggi dan besar.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Gila, ini rumah atau istana, gede banget. Coba deh cek lagi alamatnya, udah benar atau belum?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, saran Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya, benar yang ini rumahnya JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik. Tiba-tiba seorang satpam menghampiri mereka dari dalam pagar itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, mas, dari tadi saya melihat mas-mas ini didepan pagar, ada apa ya mas?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tegur satpam itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, begini pak, kami mau ketemu sama Santi. Santinya ada tidak ya pak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, celetuk Ajey spontan menjawab pertanyaan satpam itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oh, non Santi. Memangnya mas-mas ini siapa?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tanya stpam itu lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kami temannya, pakÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Ajey lagi. Tampak kening satpam itu mengkerut tanda heran atau mungkin tidak percaya. Matanya tampak menatap curiga melihat penampilan Ajey dan Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Lho, kenapa pak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tanya Opik merasa kesal diperlakukan seperti itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, mas. Apa benar mas-mas ini temannya non Santi?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tanya satpam itu lagi. Opikpun langsung mengeluarkan kartu nama atas nama santi dan menunjukkannya pada satpam itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ini buktinya, pak.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik.</p>
<p>Sesaat setelah satpam itu memeriksa kartu nama itu, kembali satpam itu bertanya, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dapat dari mana mas kartu nama non Santi ini?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dengan kesal Ajey menjawab, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya dari Santilah, memangnya dari siapa lagi? Sekarang, Santinya ada atau tidak sih?!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Baiklah, tapi tunggu dulu disini sebentar, saya hubungi non Santi dulu. Oya, nama mas-mas ini siapa ya?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â tanya satpam itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ajey dan OpikÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Baiklah, sebentar ya mas.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap Satpam itu sambil kembali masuk ke balik pagar besi, lalu tampak satpam itu menelepon dari dalam pos satpam didekat pagar.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Halo, non, ada dua orang yang mengaku temen non, mau bertemu sama non.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Ucap satpam itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Siapa, pak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya dari ujung telepon sana.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Mereka mengaku bernama Ajey dan Opik, Non.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab satpam.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ajey? Opik? Siapa mereka?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya santi lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Tidak tahu, non. Semula saya tidak percaya, tapi mereka punya kartu nama non. Katanya dapat dari non Santi.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya sudah, pak. Suruh saja mereka masuk, saya tunggu didalam.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Baik, Non.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Patuh satpam itu sambil menutup telpon dan kembali menghampiri Ajey dan Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ya, silakan masuk mas, kata non santi,non santinya menunggu didalamÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Terimakasih, pakÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Ajey sembari menegakkan badannya, dan bergegas masuk kedalam. Namun, tiba-tiba satpam itu menghentikan langkah Ajey dan Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, mas. Bisa saya periksa mas-mas dulu. Silakan menempel ke tembokÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap satpam itu.</p>
<p>Sesaat Ajey dan Opik saling berpandangan tanda heran. Namun, karena enggan berkomentar, mereka menuruti saja permintaan satpam itu. Badan mereka merapat ke tembok, kaki agak melebar, tangan keatas, lalu satpam itu mulai memeriksa badan Ajey dan Opik, ya kayak di film-film lah.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Baik, mas, bersih. Maklum ya mas, sekarang kan lagi banyak kasus bom, jadi harus hati-hatiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oh, tidak apa-apa kok pakÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik.</p>
<p>Akhirnya Ajey dan Opikpun berhasil melewati pagar besi tinggi besar itu. Sambil menunggu Santi keluar, mereka duduk-duduk diteras depan.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Gila, JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ Gede banget rumahnya, tamannya juga luas dan indah bangetÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, takjub Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya, gila, pasti Santi itu anaknya orang kaya, kata gua juga apa? Nggak sia-sia kita mengembalikan dompet ini.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Ucap Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya, Jey. Sudah cantik, kaya lagi. Siapa tahu jodoh kita yaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya, PikÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ehm&#8230;, maaf, anda berdua yang kata satpam tadi mau bertemu saya?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â ucap seorang wanita yang tiba-tiba keluar dari pintu rumah dan memotong pembicaraan Ajey dan Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, uh, iya mbak.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Anda-anda siapa ya?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, kenalkan, nama saya OpikÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik sambil menjulurkan tangannya, disusul oleh Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ada perlu apa ya?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Santi lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ini, mbak, kami mau mengembalikan dompet mbak yang kami temukan di jalan.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Dompet?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Santi sambil mengernyitkan dahinya.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya, dompet. Apa ini betul dompet mbak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tanya Opik lagi sambil menjulurkan dompet itu ke arah Santi.</p>
<p>Setelah sesaat memeriksa dompet itu, santipun berkata, ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“ya, ini memang dompet saya, kemarin dompet ini hilang.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Diperiksa dulu mbak isinya, takut ada yang hilangÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ah, tidak usahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, jawab santi sambil mengeluarkan 4 lembar seratus ribuan dari dalam dompet itu dan memberikannya pada Ajey dan Opik. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ini uang untuk balas jasanyaÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Lho, apa maksudnya ini mbak?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, heran Ajey.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Iya mbak, tidak usah, kami ikhlas kokÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, tambah Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sudahlah, terima saja uang ini, saya tidak ingin merasa berhutang budiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Nggak kok mbak, nggak apa-apa, kami benar-benar ikhlas kokÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oh, atau kurang? Kalau begitu ini saya tambah lagiÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, u\cap Santi sambil mengluarkan beberapa lemnbar seratus ribuan lagi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Lho, bukan itu maksud kami mbak.&#8221;</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sudahlah, tidak usah jual mahal. Kalau begitu silahkan mabil smeua uang di dalam dompet ini.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Ucap Santi lagi.</p>
<p>Ajey langsung tertegun mendengar hal itu. ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, mbak. Kami benar-benar tidak mengharapkan imbalan jasa dari mbak, kami ikhlas, mbak.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Ah, mana mungkin dizaman sekarang ini masih ada orang yang ikhlas, terlebih lagi dengan kasus seperti ini.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oh, masih ada, mbak. Ya kami inilahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Memangnya apa yang mas-mas ini mau sih? Diberi uang tidak mau? Diberi semua juga tidak mau?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Kami tidak mau apa-apa mbak, cukup bisa kenalan sama mbak saja kami sudah puasÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ungkap Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Oh, jadi mau kenalan sama saya. Kalau begitu, rasanya lebnih baik dompet ini tidak kembali lagi ke saya, daripada saya harus kenal sama orang-orang semacam situ. Silakan kalau dompet ini mau di bawa lagi, lengkap dengan semua isinya.ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>Wajah Ajey dan Opik langsung memerah, merek jelas-jelas tersinggung dengan ungkapan kalimat seperti itu.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Maaf, mbak. Mbak pikir semuanya bisa mbak beli dengan uang. Mbka pikir semuanya bisa mbak ukur dengan harta. Tidak, mbak! Tidak! Memang semula kami mengembalikan dompet ini agar dapat berkenalan dengan mbak. Tapi kami belum tahu siapa sebenarnya mbak. Andai saja kami sudah tahu sebelumnya siapa yang akan kami hadapi, tentu kami akan teramat enggan untuk mengembalikan dompet ini. Terimaksih mbak. Saya lebih baik pergi daripada harus mengenal orang semacam mbak!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â Tegas Ajey sembari membalikkan badannya dan bergegas pergi.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, jey, mau kemana loe?ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, heran Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Sudah, ayo kita pergi dari siniÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â, ucap Jey sambil menarik tangan Opik.</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Eh, uh, tapi JeyÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“SudahÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â¦!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<p>Ajey terus bergegas sambil tetap menaruk tangan opik. Sementara dengan santai santi kembali masuk ke dalam rumahnya, sambil berucap ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€¦Ã¢â‚¬Å“Orang aneh!ÃƒÆ’Ã‚Â¢ÃƒÂ¢Ã¢â‚¬Å¡Ã‚Â¬Ãƒâ€šÃ‚Â</p>
<img src="http://agusw.com/?ak_action=api_record_view&id=8&type=feed" alt="" />

<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://agusw.com/khajeya-lavista-26/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

