Saat itu Umar bin Khotob menjabat sebagai Kholifah ( Presiden )…..
Datanglah serombongan orang dari negeri seberang ingin menemui Beliau….
Setelah beberapa hari berjalan, sampailah rombongan itu di Iraq, negara tempat di mana Umar mengendalikan Pemerintahan- nya( Daulah Islamiyah )…
(more…)
bila engkau sedang bergembira
mengacalah dalam-dalam
ke lubuk hati
disanalah nanti engkau dapati
bahwa hanya yang pernah membuat derita
berkemampuan memberimu bahagia
jika engkau berduka cita
mengacalah lagi, ke lubuk hati
disanalah pula bakal kau temui
bahwa sesungguhnya
engkau sedang menangisi
sesuatu yang pernah
engkau syukuri
Khalil Gibran
Rindu ini…
Dalam kebekuan hati yang lelah mencari
setitik arti cinta tuk mengisi hari
setitik arti rindu tuk menjalin mimpi
dengan langah tertahan ku ingin temukan
nuansa indah kerinduan tuk abadikan kenangan
(more…)
Salah satu ciri seorang yang beriman adalah ketika disebut nama Allah
maka bergetarlah hatinya.
Bergetar kerana takut akan azab-Nya,
Bergetar kerana mengharap Ridho-Nya,
Dan bergetar kerana rindu ingin berjumpa dengan-Nya.
(more…)
Kumpulan orang langit itu sudah mengingatkan,
“Kalian hanya perlu berlayar saja di atasnya dengan perahu kalian..!â€Â
“Jangan masuk ke lautan karena di dalamnya banyak hewan ganas dan beracun…â€Â
Tapi engkau malah mengambil tali dan mengikatkannya di tubuh kalian
Lalu kalian melompat ke sana tanpa bisa kami cegah dan entah apa maksud
kalian
Yang aku takutkan terjadilah
Mereka berubah menjadi makhluk yang aneh
Leher mereka menjadi lebih panjang seperti ular, lidahnya bercabang dua dan
giginya bertaring
Bahkan dari bahu mereka muncul dua kepala lagi dengan leher dan paras yang
sama
Jemari mereka berselaput, kukunya hitam dan tajam
Kulitnya berlendir dan baunya busuk menusuk hidung
Dan mereka mulai memanjat naik ke perahu ini dengan tali yang diikatkan
tadi
Beberapa awak kapal telah digigitnya dan seketika berubah hampir menyerupai
mereka
Aku ragu : Kaliankah itu atau monsterkah?
Dan jemariku menggenggam erat sebilah pedang
TomySaleh.Tebet.9Mei2006.8:20wib
Sungguh, kuyakin ia mampu rasakan cinta ini
Dan seyakin itu, ia tak mampu rasakan perih ini
Mengharap cintaku, sementara kuberperang melawan nasib
Mungkin ia tak pernah tahu, atau sekedar berpura-pura tak tahu
Mungkinkah ia tak peduli?
Dan tepat di pintu antar dimensi, kini aku berdiri
Menatap setiap negosiasi hati
Lalu ada sesuatu yang memaksaku memilih satu
Membahagiakannya, itu cita-cita terbesarku saat ini
Sungguh enggan jika harus berbagi perih
Tapi bahagia yang mana dalam hidupku yang mampu kubagi?
Sementara aku tersesak dalam realita hidup yang nestapa sejak lama
Atau haruskah aku khabarkan derita ini padanya?
Bisa mencintainya adalah kebahagian
Tapi, cukupkah hanya itu untuknya?
Sementara cinta ini belum tentu sempurna
Atau haruskah aku berlari menjauh?
Atau haruskah aku terus berbohong menghadapi kenyataan?
Ah, kembali untuk sesaat aku menjadi membenci diri
Dan tak lama, aku tersadar pada arti dewasa
Begitu terus berulang
Dan aku tak pernah berani menerka seperti apa akhir dari ini semua…
Mungkinkah kelak aku akan menjadi dewa?
Atau seorang gila?
Uh!
Kembali nestapa menjadi milik jiwa
Aku melihat diriku ada di masa lalu
Dan selalu seperti itu
Sementara aku merasa kau ada di masa depan
Yang aku yakini, kau sedang menantiku di sana
Menanti aku memasuki masa depanku untuk menemuimu
Yang aku tahu, aku pesimis akan masa depan itu
Aku yang tengah pesimis dapat menemukanmu
Entah kau tahu atau tidak
Setiap kali aku menatap ke depan sana, mataku berjelaga
Saat kemungkinan terindah tak mampu kukhayalkan
Dan kemungkinan terbesar di depan terlalu kutakutkan
Mungkin aku akan sangat berduka
Namun di sana akan ada lega
Saat ku dapat menatapmu meraih indah dunia
Meraihnya bukan bersamaku
Andai kau restui
Biarkan aku menikmati perihku sendiri
Tak usah kau turut menemani
Sungguh aku tak pernah tega menyaksikan kau turut berduka
Turut larut dalam kecewa menghadapi garis hidupku
Dan aku selalu berdoa
Kelak kau akan menjadi dewi surga
Bahagia dan membahagiakan
Dan aku hanya ada di masa lalumu
Menatap kau tersenyum
Masa depan terindah itu adalah layak untukmu
Dan takkan mungkin kau dapati jika terus bersamaku
Ya, garis hidupmu adalah bahagia tanpaku
Cukup enyahkan aku
Itulah cara termudah untuk dapatkan cerah
Jika benar kau seorang kasih yang pandai
Buatlah aku lega menyaksikan kau bahagia
Bahagia bercengkrama dengan masa depan terindah
Biarkan aku hanya tersenyum menatapmu dari sini
Dari masa lalu…
Pernah ku sembunyikan cinta ini
Kusimpan dalam laci meja belajarku, lalu kukunci erat
Hingga suatu pagi kutemukan cinta itu sudah tak ada lagi dalam laci
Dan tak pernah kutemukan lagi hingga aku bertemu denganmu dalam ketidaksengajaan
Ku lihat cinta itu ada bersamamu
Dan tak pernah ia meninggalkanmu
Entah bagaimana kau mencuri cintaku dan membuatnya menjadi milikmu
Siapa sebenarnya kau?
Hai gadis manis di ujung jalan
Manismu semanis-manis rayuanku
Indahmu seindah-indah bujukku
Tak tahukah engkau, lekuk tubuh terbaluk kain tipis itu sangat menggoda aku?
Duhai gadis manis di sisi trotoar
Gejolak nafsu ini mengalahkan segala
Menguasai setiap inci pikiran, memenuhi isi kepala
Aduh, tolong hentikan angin itu
Aku benar-benar tak mampu menahan pesona gerai indah rambutmu
Sekaligus iri…
Hembusan angin mampu membelai, sementara aku hanya terkaku
Kau adalah bidadari malam ini
Peri kegelapan yang membakar segala gairah jiwa
Sudikah kiranya kau temani aku barang sesaat?
Satu malam saja…
Ups, kau terbatuk oleh asap knalpot jahanam
Tapi kau tetap cantik, nona…
Dan kau tetap tersenyum manis
Tersenyum manis pada pengendara mobil sedan hitam itu?!
Bukankah asap knalpotnya baru saja meracunimu???
Seharusnya kau marah, nona…
Tapi, kau malah tersenyum?
Hei!
Hei, tunggu aku…
Mau kemana kau?
Sial!
Kau malah masuk ke dalam mobil itu…
Tinggalkan aku yang masih terkaku membisu dengan segala emosi tabu
Kali ini aku yang terbatuk oleh asap knalpot sedan yang langsung melaju
Membawa pergi dirimu entah kemana
Dan lagi-lagi malam ini hanya kulewati dengan berfantasi…
Fantasi liar tentang bidadari di ujung jalan…
Kulihat duka yang sebenarnya dimatamu
Kulihat serpihan hati yang luluh lantah
Terdengar jelas lirih memohonku tuk kembali
Tetes air suci mengaliri pipimu
Tapi tetap tak kuasa menahanku
Teriakmu panggil namaku
Tak lagi kudengar
Jiwa ini bukan lagi milikmu, gadisku
Biarkan aku melangkah
Menapaki setiap takdir, menikmatinya sendiri
Maafkan aku, kasih…
Tapi aku tetap harus pergi
Tak perlu kau rindukan aku
Tak usah kau mencariku
Kelak, jika cinta itu kembali, akulah yang akan menemuimu