24 April 2006 admin 5Comment

Bila selama ini darah dari tali pusar dibuang begitu saja sesaat setelah seorang ibu melahirkan, pikirkan sekali lagi. Sebab, di sana terkandung sel induk yang bisa menjadi obat macam-macam penyakit. Inilah “asuransi biologis” masa depan!

Wahai para ibu, semoga anak Anda tidak bernasib buruk seperti Keone Penn.

Anak Lesslie Penn ini menderita sickle cell (sel arit), suatu penyakit genetis yang menyerang darah. Sel darah normal berbentuk seperti donat, yang mengalir sepanjang pembuluh membawa oksigen. Pada penderita sel arit, darah menjadi keras dan lengket, bentuk selnya berubah mirip arit (sabit) seperti biasa dipakai petani untuk memotong rumput. Saat melewati pembuluh yang mirip pipa kecil, sel darah berbentuk sabit itu akan menyumbat saluran dan berhenti. Ini menimbulkan kesakitan, serta merusak dan menurunkan jumlah darah.

Keone terdiagnosis menderita penyakit itu saat berusia enam bulan. Lalu, ketika berumur lima tahun, penyakit sel arit menyebabkan Keone menderita stroke. “Sepanjang yang kuingat, begitu bangun, kulihat ibu di sampingku beserta keranjang dan boneka beruang Teddy. Sangat menakutkan,” kenang Keone.

Ditemani ibunya, Keone rajin keluar- masuk sebuah rumah sakit di Atlanta untuk menjalani transfusi darah. Ia berjuang melawan stroke yang bisa merenggut nyawanya kapan saja. Namun, saat menjelang umur 11 tahun, transfusi yang dia jalani tak lagi menolong. Secara perlahan penyakitnya telah merusak persendian dan tulang belakangnya. Akibatnya, Keone tidak bisa beraktivitas layaknya anak sebayanya. “Jika aku main basket, kesenggol saja membuatku sakit sekali,” keluhnya.

Sejatinya, pasien macam Keone bisa menjalani tranplantasi sumsum tulang belakang. Tapi prosesnya rumit, antara lain karena harus ada kecocokan gen antara pendonor dan penerima. Celakanya lagi, tidak ada donor yang cocok untuk Keone. Namun, secercah harapan bersinar ketika Dr. Andrew Yeager dari University Pittsburgh menawarkan pengobatan dengan metode baru, yakni transplantasi menggunakan darah tali pusar (umbilical cord blood, UCB).

“Saya tidak yakin prosedur ini berjalan baik. Peluangnya fifty-fifty dan terserah Anda. Saya tidak bisa menjanjikan sebuah kesembuhan,” tutur Dr. Yeager mengakhiri penjelasan panjang lebar soal metode baru itu kepada Lesslie Penn.

“Ibu masuk ke kamarku dengan wajah tertekan dan menarik kursi mendekati tempat tidurku. Ia lalu menceritakan semua yang dijelaskan Dr. Yeager kepadaku. Aku hampir menangis. Ibu mulai bisa menguasai emosinya dan dengan tenang berkata, ’Waktumu tinggal lima tahun lagi.’” Keone mengenang saat-saat ibunya memberi kabar soal metode yang akan digunakan untuk menyembuhkannya.

Selepas Natal 1988, setelah dibombardir dengan kemoterapi untuk menghancurkan darah “jahat” di tubuhnya, Keone menerima suntikan darah tali pusar. Ajaib, beberapa minggu kemudian sistem darah Keone berubah dari tipe O menjadi B, sesuai dengan tipe darah yang disuntikkan ke tubuhnya. Setahun kemudian dokter menyatakan, sel arit di tubuh Keone sudah hilang.

Selain Keone, Oh Tze Sun, bocah asal Singapura penderita thalasemia mayor sejak berusia enam bulan, pun tertolong berkat UCB. Juli 2001 Oh diberi darah tali pusar dari bocah yang tidak punya hubungan kerabat dengannya. Kini ia tidak perlu disuntik setiap hari dan transfusi darah setiap tiga minggu.

Dari otak sampai gigi
Transplantasi UCB memang tergolong metode baru jika mengacu ke transplantasi pertama yang dilakukan terhadap seorang bocah berusia lima tahun di Prancis yang menderita anemia Fanconi tahun 1988.

Anemia Fanconi adalah penyakit keturunan yang utamanya mempengaruhi sumsum tulang belakang, berakibat pada menurunnya produksi semua jenis sel darah. Saat itu ia menerima suntikan darah tali pusar adiknya yang baru lahir. Sistem ini dikembangkan untuk mengatasi kelemahan transplantasi sumsum tulang belakang, yang merupakan sumber “tradisional” stem cell (sel induk).

Apa itu sel induk ?

Menurut Academic Press Dictionary of Science Technology, sel induk didefinisikan sebagai sel yang berfungsi sebagai sumber lanjutan sel baru. Sel ini sanggup berkembang biak secara tidak terbatas dan berkembang menjadi sel khusus. Bisa dibilang, inilah biangnya sel yang menyusun jaringan tubuh. Manakala kita terluka, misalnya, sel ini bertindak dengan membelah diri menjadi sel baru, menggantikan sel yang rusak.

Untuk lebih mengembangkan transplantasi ini, sejak 1986 National Marrow Donor Program (NMDP), sebuah lembaga nirlaba di AS, memberi fasilitas transplantasi sumsum tulang belakang dan – sekarang ini – transplantasi sel induk. Dari daftar yang mereka susun, ternyata ada 72 pe-nyakit yang bisa disembuhkan melalui sel induk. Kebanyakan adalah penyakit sangat serius ma-cam leukimia, bermacam bentuk anemia, serta myeloma. Para ilmuwan yakin, penyakit jantung, diabetes, maupun Alzheimer dan Parkinson tinggal menunggu waktu “dijamah” dengan sel induk.

Sungguh, kita patut berterima kasih pada para peneliti yang telah berkutat dalam pelbagai penelitian tentang sel induk. Selama dekade terakhir, ihwal sel induk memang menyedot minat para ilmuwan untuk mempelajarinya. Banyak hal yang terungkap sehingga mereka semakin mengerti soal sel ini dan apa yang bisa mereka lakukan. Salah satunya, sel ini dapat berperan secara luas dalam bidang pengobatan medis.

Umumnya, semakin muda sumber sel induk, semakin banyak gunanya. Sumber sel induk paling oke sesunguhnya ya dari embrio. Sumber ini jauh lebih jos karena bisa “menghasilkan” bermacam jenis sel: jantung, paru-paru, otot, kulit. Pokoknya, semua organ! Sayangnya, karena alasan moral, banyak negara yang mengontrol ketat penelitian soal sel induk yang bersumber dari embrio ini.

Makanya, kemudian dicarilah sumber sel induk dewasa. Kalau yang ini, banyak sumbernya. Yang terbaru dari otak, otot, kulit, liver, bahkan gigi! Tapi semua itu masih sebatas percobaan. Yang sudah berjalan yaitu dari sumsum tulang belakang dan dari darah tali pusar yang kini mulai marak dilakukan.

Hanya saja kualitas kedua sumber itu masih di bawah embrio. Artinya, belum bisa menghasilkan semua jenis sel. Ambil contoh, sel induk dari sumsum tulang belakang dan UCB merupakan sel induk haemotopoietic (HSC). Maksudnya, HSC hanya menghasilkan sel yang berhubungan dengan darah dan sistem kekebalan – sel darah putih (yang berperang melawan infeksi), sel darah merah (kurir oksigen bagi tubuh), dan platelet (keping darah, berfungsi membekukan darah). Banyak penelitian kini diarahkan ke sumber yang satu ini.

HSC kemudian digunakan pada transplantasi untuk menghasilkan sumsum tulang belakang pasien, yang lalu bisa menghasilkan sel darah merah, sel darah putih, dan sel penggumpal. Transplantasi HSC diperlukan manakala sumsum tulang belakang pasien tidak berfungsi karena suatu penyakit. Namun, untuk tipe kanker tertentu, kemoterapi dosis tinggi atau terapi radiasi tetap diperlukan untuk mempengaruhi pengobatan. Terapi itu akan merusakkan sel-sel di sumsum tulang belakang. Tranplantasi HSC lalu diperlukan untuk mengisi kekosongan darah dan sistem kekebalan.

Lebih primitif

Sebagai sebuah metode baru, apa yang ditawarkan darah tali pusar ini dibandingkan dengan transplantasi sumsum tulang belakang?

Dalam public talk yang dilakukan CordLife Singapura beberapa waktu lalu yang juga dihadiri Intisari, Soren M. Bested – Chief Technology Officer merangkap Laboratory Director CordLife – mengungkapkan beberapa kelebihan UCB ini.

Pertama, UCB bebas risiko dan rasa sakit saat diambil. Bagaimana mau sakit wong pengambilannya tidak lama sesudah si ibu melahirkan, dan hanya butuh waktu beberapa menit. Cara mengambilnya pun tinggal menusukkan jarum ke tali pusar. Bandingkan dengan pengambilan sumsum tulang belakang yang pendonornya harus dibius dan dibedah untuk melihat risiko kemungkinan infeksi. Mengumpulkan sumsum tulang belakang sendiri menyakitkan dan merupakan proses invasive. Selain itu, darah tali pusar bisa dikatakan barang terbuang.

Kedua, UCB selalu siap digunakan kapan saja diperlukan. Sebab, ia bisa disimpan di kulkas cyrogenic yang sangat dingin, sampai minus 180oC. Bandingkan dengan kulkas di rumah kita yang rata-rata hanya minus 20oC. Berapa lama waktu penyimpanan memang belum ada angka pasti, seperti diakui dalam situs The UCLA Umbilical Cord Blood Bank. Mereka merencanakan untuk menyimpannya paling tidak selama 10 tahun. Sebaliknya, sumsum tulang belakang diambil saat diperlukan, plus memerlukan waktu berminggu-minggu – bahkan berbulan-bulan – untuk menemukan donor yang cocok dan … mau.

Ketiga, rendahnya risiko Graftversus-Host Disease (GvHD), suatu komplikasi yang terjadi setelah transplantasi sel induk, di mana sel donor (graft) menyerang sel penerima (host). GvHD terjadi jika sel donor dan penerima tidak kompatibel meskipun sesuai. Nah, karena dipandang lebih “naif” ketimbang sumsum tulang belakang, darah tali pusar memiliki kecenderungan untuk kompatibel antara donor dan penerima.

Keempat, soal kecocokan. Jika seorang pasien memerlukan transplantasi, donor harus cocok dengan pasien. Kecocokan ini dilihat dalam hal surface antigen yang dikenal sebagai human leukocyte antigen, atau penanda HLA. Ada enam HLA dalam tubuh kita, dan pada transplantasi sumsum tulang belakang, keenam HLA pasien harus cocok dengan keenam HLA donor. Tranplantasi darah tali pusar mensyaratkan minimal tiga HLA saja yang cocok. Perlu diketahui, “Seorang anak memiliki tiga HLA dari masing-masing orangtuanya,” kata Soren.

Masih banyak kelebihan lainnya. Salah satunya, UCB lebih “muda” dibandingkan dengan sumsum tulang belakang dan memiliki potensi yang besar untuk diekspansi, sehingga bisa dihasilkan sel induk turunan tanpa berkembang menjadi sel khusus.

Meski begitu, ada juga kekurangannya. Karena sel induk di darah tali pusar tergolong lebih primitif dibandingkan dengan yang ada di sumsum tulang belakang, proses penyatuannya yang memerlukan waktu lebih lama membuat pasien penerima tranplantasi berisiko infeksi untuk jangka waktu yang lama. Kelemahan lainnya, pengambilan UCB hanya mengandung sel induk yang cukup untuk tranplantasi seorang anak atau dewasa muda berbobot 45 – 50 kg.

Bagaimanapun, darah tali pusar telah menyelamatkan jiwa Keone Penn dan Oh Tze Sun.

IBARAT ASURANSI

Bagi Tini Widjaja darah tali pusar ibarat sebuah asuransi – utamanya – bagi anak yang dilahirkan. “Selain itu ada peluang,” ujarnya melalui telepon. Maksudnya, inilah anak terakhirnya setelah ia melahirkan anak pertama – keduanya melalui operasi caesar.

Pengambilan UCB yang dilakukan pada 2003 itu, menurut dia, tidak membuatnya sakit dan berlangsung hanya beberapa menit. Tini mengenal CordLife dari saudaranya yang tinggal di Singapura. Sepintas, biaya yang dikeluarkan terlihat mahal, Sin $ 3.750. “Sekarang sudah turun, sekitar Sin $ 2.000-an,” tambah Tini. Biaya itu belum termasuk biaya penyimpanan sebesar Sin $ 250 per tahun. Namun, jika dikaitkan dengan manfaatnya dalam melawan penyakit, sepertinya sepadan. Lagi pula kontraknya sampai 21 tahun.

Makanya ia berpesan, jika keadaan memungkinkan, tak ada salahnya menyimpan darah tali pusar. Tiga bulan setelah melahirkan, Tini mencoba melihat tempat penyimpanan darah tali pusar anaknya di Singapura. Maklum, begitu diambil, darah itu langsung diterbangkan ke Singapura. “Saya menjadi yakin setelah melihat laboratorium mereka.”

5 thoughts on “Darah Tali Pusar, Asuransi Biologis Masa Depan

  1. Salam,

    Pak, saya minta tolong dicarikan org yang mau menerima donor sumsum tulang belakang atau donor ginjal, karena saya butuh uang untuk menebus anak saya yang sekarang di kuasai mertua saya. masalah kompensasi dari donor tersebut tidak lah banyak, pokoknya cukup untuk menebus anak dan membayar hutang2 saya sudah cukup. tolong konfirmasi kan ke nomor hp 085655700299 atau 085655617707 (istri saya). SERIUS.
    demikian terima kasih atas bantauannya.

    Salam,

    Lucky

  2. I keep listening on the information talk about acquiring free on the internet grant applications so I’ve been hunting around for the most effective internet site to get one. Thank you for the assist!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *