3 Mei 2005 admin 0Comment

Semuanyakan telah aku percayakan padamu…
Tentang cinta, kasih sayang, dan pengorbanan
Terserah kau pula mau buat apa padaku
Menyuruhku tersenyumkah, atau menangis tersedu, lalu tertawa
Menyuruhku berdirikah, duduk lalu berlari
Aku tak pernah peduli yang akan dilalui
Selama itu adalah perintahmu
Tapi pagi tadi kau diam saja?
Ada apa?
Sudah enggankah kau memberi titah?
Kalau benar begitu, ada apa?
Dan seperti biasa, aku tak berani bertanya
Aku turut terdiam disudut menunggu kau bicara
Dan kau tetap tak bicara jua
Dan kan tetap berdiri sampai nanti
Sampai harap tiada lagi
Tapi, bicaralah…
Atau sekedar melentikan jari menyuruhku melakukan sesuatu
Atau kerutkan dahi dan siniskan mata dan senyummu, lalu usir aku
Aku akan pergi, dan untuk waktu yang lama takkan kembali
Atau… Atau kau suruh aku untuk diam, maka aku akan diam tanpa bertanya
Dan itu untuk waktu yang lama, sampai terdengar lagi titah yang lain
Atau sekedar gerakan dari lentik jari
Tapi, kau tidak melakukan itu juga…
Tak bicara, melentikan jari, dan dahimu tetap biasa, wajah tetap biasa, mata tetap biasa
Sungguh, walaupun aku benci, tapi saat ini yang salah satu hal yang paling kunanti adalah kecutmu
Sungguh, walaupun aku benci, tapi saat ini yang salah satu hal yang paling kunanti adalah sinismu, bahkan usiranmu untukku untuk waktu yang harus lama
Aku tak pernah ingin kau menjauh dari jiwaku dengan sendirinya
Aku yang akan menjauh darimu
Untuk kemudian nanti mendekat kembali
Disaat kau tak lagi mengingatku
Atau disaat kau teramat sangat merindukanku dan menyesali semuanya
Namun, itu semua khayalan
Kau tetap diam
Ada apa?
Dan tetap saja aku tak berani bertanya…
Dan tetap kunanti titahmu itu di sudut ini…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *