18 Agustus 2005 admin 1Comment

Menopang seluruh yang ada di hati, tubuh, dan luangan kasih sayang kalian
Hingga begitu indah setiap detik dalam hangat cengkrama

Bunda, Ayah, dengan malu kukatakan : “Akulah anakmu…”

Adik-adikku, dengan malu kukatakan : “Akulah kakakmu…”

Pernah dan sering ku amat rapuh
Pada kalian aku mengeluh, dan selalu

Bunda…
Sejujurnya telah kucoba kumpulkan keindahan dunia untuk ganti hadirmu
Sejujurnya telah kupilah yang terbaik untuk mengisi kerinduanku
Tapi bunda, yang kutemui hanya lelah
Lalu saat itu aku kembali padamu, memohon pelukan
Dan kau senantiasa menjadi pendengar yang arif

Mendengarkan dengan mata, mendengarkan dengan hati
Kau mendengar apa yang tak bisa terucap dengan kata-kata

Bunda…
Dunia takkan mampu menggantikanmu
Pilahan yang terbaik takkan lagi coba kuisi dalam rinduku
Hingga begitu indah setiap detik dalam rahimmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam gendonganmu
Hingga begitu indah setiap detik dalam pangkuanmu
Hingga derita kau rasa indah demi anandamu

Lalu… Kenapa hanya rindu yang ananda punya untuk ibunda?

Tidak bunda…
Rindu ini hadir dalam Doa anandamu
Agar surga selalu hadir untukmu
Bukan hanya ditelapak kakimu

Ayah…
Rentetan waktu yang kau urai dalam peluh
Dalam entah berapa banyak tetes keringatmu yang kini menjadi darahku
Selama itu kau tetap tersenyum

Jinjingan pelangi tak pernah luput kau bawa sepulang kerja
Lalu dengan sabar, menguraikan warnanya untukku satu persatu dengan mata berbinar
Dengan baju kemejamu yang telah lusuh

Lalu, kuteringat saat kumerengek meminta baju baru
Sementara kau sibuk berhutang demi memenuhi keinginanku…
Ah, aku memang anak yang manja…

Ucapan terimakasih dan doa rasanya tak pernah cukup untuk membalasmu
Sementara, tak jarang aku menjadi jauh dari harapan-harapanmu
Aku malu…

Ayah…
Sebagian semangatku ada dalam doamu
Dan pijakan hidupku dalam petuah sederhanamu
Aku catat dalam jiwa dan coba kujalankan

Ayah…
Ananda bangga menjadi anakmu

Bunda, Ayah,
Mungkinkah kumampu menjadi anak yang dapat kalian banggakan
Mungkinkah kumampu penuhi semua harapan
Mungkinkah kumampu menjadi penyejuk pandangan

Maafkan aku…
Maafkan jikalau budi kalian selama ini aku balas dengan hinaan
Maafkan jikalau sapaan lembut aku balas dengan hardikan
Maafkan jikalau mata ini sering menatap sinis pada kalian…
Maafkan jikalau banyak permintaan tolong yang tak kudengar
Maafkan jikalau aku justru membuat kalian malu
Maafkan atas segala…
Maafkan…

Ayah, Bunda, maafkan aku…

Sungguh aku ingin menjadi anak yang dapat kalian banggakan
Sungguh aku ingin penuhi semua harapan
Sungguh aku ingin menjadi penyejuk pandangan

Ayah, Bunda, kembali kumemohon doamu…

Adik-adikku…
Malaikat kecilku…
Ah, kini kalian telah tumbuh besar
Tentu telah memahami lebih banyak tentang hidup
Kalian kini telah tumbuh menjadi anak yang cerdas
Ya, kalian kini tak lagi mudah untuk kubohongi seperti dulu

Adik-adikku, selain Bunda dan Ayah kita, kalianlah yang paling tahu siapa aku
Kalian tahu setiap cela diri kakak…
Selain Bunda dan Ayah, kalianlah yang paling sering menjadi korban amarahku
Kalian yang selalu menjadi pelampiasan emosi dan egoisku

Padahal kakak tahu, kalian begitu tulus menyayangi kakak
Entah telah berapa banyak doa kalian yang menjadi jalan kemudahan bagi hidup kakak

Maafkan kakak, adik-adikku…
Selama ini kakak belum mampu menjadi suri tauladan bagi kalian
Kakak belum bisa menjadi kakak yang baik, yang membahagiakan kalian
Lebih banyak menyulitkan dan menyudutkan kalian
Jari-jari ini telah banyak membuat pipi kalian merah…

Selain Bunda dan Ayah, kalianlah orang paling pemaaf yang pernah kakak kenal
Pertengkaran yang acap kali terjadi karena ketidakdewasaanku, begitu mudah kalian lupakan

Seringkali ucapan lugu kalian menjadi nasehat jiwa
Seringkali tingkah polos kalian menjadi hikmah hidup
Kalianlah motivator, penyemangat hidupku

Ketika menatap kalian tidur bagai bayi, terbesik di benakku, alangkah inginnya aku membahagiakan kalian
Alangkah inginnya aku menjadi kakak yang bisa kalian banggakan

Adik-adikku, kakak sayang kalian…

Keluargaku…
Kalian adalah surga dalam hidupku
Karunia termegah Sang Pencipta untukku
Pastikan kita selalu bersama, selamanya…

One thought on “Puisi Untuk Keluargaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *