8 Februari 2006 admin 1Comment

Maafkan, aku meneleponmu sepagi ini
Aku berpikir dingin udara pagi akan lebih bisa menyejukkan kepalamu
Dan tentunya otakmu belum dijejali oleh segala kontaminasi dunia
Maafkan aku…
Ya, tentunya kata maaf ini aku katakan setelah kau dengan kasar memakiku
Ternyata dugaanku salah
Kau justru merasa semakin risih terganggu oleh dering telepon dariku

Setengah jujur, aku mulai tak mengerti keinginanmu, setengahnya lagi adalah kebodohanku

Segalanya terasa berubah
Dan kini aku tengah ada dalam jengah

Segalanya memang bisa berubah, bahkan tanpa pernah diduga
Tapi entah dengan hatimu hari ini
Yang aku rasakan, ya, hanya yang aku rasakan, adalah kau telah berubah
Berubah dengan cepat!
Adakah ini adalah sebuah revolusi dari isi sebuah hati?

One thought on “Revolusi Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *