16 April 2005 admin 2Comment

Bel pulang sekolah telah berbunyi nyaring. Dhillah berjalan terburu-buru, bahkan hampir berlari. Wajahnya penuh dengan amarah dan kekecewaan. “Dhillah! Dhillah! Tunggu…!” teriakan Jeje seolah tak didengarnya. Dhillah terus melaju tanpa menoleh. “Dhillah! Tunggu dulu! Ada apa ini?!” tiba-tiba langkah Dhillah tertahan oleh sepasang tangan yang memegang erat pundaknya.

“Sudahlah! Tidak ada lagi yang harus dijelaskan. Dan tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!” kata-kata itu mengalir lancar dari lidah Dhillah sambil menatap Jeje penuh kebencian.

“Ta.. tapi… ada apa ini?!” Jeje mengerutkan dahinya.

“Tolong jangan lagi mengganggu aku! Sejak saat ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi! Dan itu pilihan kamu! Selamat tinggal!” seluncuran kata kembali terucap oleh Dhillah sebagai jawaban atas pertanyaan Jeje. Lalu ia pergi dengan cepat meninggalkan Jeje yang berdiri kaku penuh kebingungan.

“Dhillah..! Dhillah..!” kembali Jeje memanggil Dhillah yang terus menjauh dan menjauh, namun Dhillah tetap berlalu.

***

“Kring.. Kring..” dering telepon berbunyi nyaring. Dhillah mengangkat telepon itu dengan penuh enggan.

“Haloo… Dhillah?” suara lirih diujung telepon sana ketika telepon diangkat. Dhillah diam tak menjawab suara itu. “Dhillah.. Please.. Kita harus bicara…”

“Tut… Tut… Tut…” tiba-tiba telepon terputus. Jeje yang berada disudut telepon sana mencoba kembali menghubungi telepon Dhillah, namun tak ada lagi yang mengangkatnya. Beberapa kali dicobanya, hasilnya tetap nihil.

***

Bel istirahat berbunyi lantang, membuat suasana sekolah menjadi ramai seketika. Jeje mencoba menghampiri dan menyapa Dhillah. Namun seperti orang yang belum mengenal, Dhillah tidak menanggapi sapaan Jeje. Ia begitu beku. Sementara Jeje hanya dapat berdiri kaku. Sampai seluruh jam pelajaran hari itu habis dan seluruh sekolah telah sepi, Jeje terus termenung disudut kelas, sementara Dhillah tetap beku dan tak tahu tengah berada dimana.

***

“Haloo..” ucap Dhillah menganggkat teleponnya.

“Dhillah, please.. Kita harus bicara…”

“Tut… Tut… Tut…” Dhillah langsung menutup teleponnya.

“Haloo..” ucap Dhillah kembali mengangkat gagang teleponnya ketika teleponnya kembali berbunyi.

“Dhillah… Please, hentikan semua ini… Aku…”, tiba-tiba telepon kembali terputus.

Telepon kembali berbunyi, Dhillah kembali mengangkat teleponnya. Belum sempat terucap kata halo, suara diujung telepon sana telah mendahului, “Dhillah, baiklah, aku minta maaf jika aku bersalah, tapi…”, lagi-lagi telepon ditutup oleh Dhillah.

“Kring.. Kring.. Kring…”, suara telepon menggema ke seluruh sudut rumah Dhillah, namun tak juga diangkatnya, dan deringan-deringan selanjutnya tak lagi terdengar seiring dengan diputusnya kabel telepon oleh Dhillah.

***

Tiga hari berlalu, Dhillah tetap beku dan seolah tak mau lagi mengenal seseorang yang bernama Jeje. Ia terus menghindar dari Jeje, bahkan walau Jeje telah berusaha mendekatinya sekalipun. Jeje tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia terus termenung memikirkan Dhillah. “Dhillah.. Ada apa sebenarnya ini?” lirih Jeje dalam hati sambil duduk sendiri di satu sudut sekolahnya.

Lalu mata Jeje menatap tajam pada sekumpulan bunga-bunga mekar dihalaman sekolah. Ia melirik ke segala arah, tak ada penjaga kebun, tak ada guru… “Ahh, aman..” ucap Jeje sendiri, lalu memetik sebuah bunga melati dan membawanya kebelakang sekolah. Dirobeknya secarik kertas dari buku tulisnya, lalu ia menulisinya, dan menempelkanya pada tangkai melati itu.

Diakhir jam sekolah, Jeje berlari cepat mengejar Dhillah, lalu berdiri dihadapannya. Kedua tangan Jeje menghalangi Dhillah yang mencoba untuk terus menghindar.

“Dhillah! Dhillah! Baik jika memang itu yang kamu mau. Tapi aku mohon untuk yang terakhir kalinya, terimalah bunga ini, maka aku berjanji takkan mengganggu hidupmu lagi!” ucap Jeje sambil menatap tajam mata Dhillah. Dhillah membalas menatap Jeje dengan tak kalah tajam, namun mulutnya tetap bungkam seolah bisu. Jeje kemudian menarik tangan kanan Dhillah, digenggamkannya sepucuk melati itu ke tangan Dhillah, lalu Jeje berlalu pergi meninggalkan Dhillah yang masih berdiri kaku di tempatnya setelah dihadang Jeje sebelumnya.

Dhillah menatap tajam melati yang tengah digenggamnya itu, lalu membuka secarik kertas yang menempel pada tangkai bunga itu. Dalam kertas itu tertulis :

Dhillah, sepucuk melati ini untukmu. Lihatlah melati ini. Melati ini penuh dengan noda dan bercak hitam karena asap knalpot. Begitu juga dengan cinta. Jika ada cinta yang bersih tanpa noda, itu bukan cinta, tapi kepalsuan. Cinta penuh dengan halang dan rintang, yang jika kita mampu menghadapinya, itulah kesejatian cinta.

Jeje

Dhillah membaca tulisan itu, kemudian menggenggam erat sepucuk melati yang memang tengah digenggamnya. Sementara Jeje telah menghilang dari pandangan, pulang ke rumah dengan penuh kekecewaan dan kehampaan.

2 thoughts on “Aku Benci Kamu

  1. Excellent beat ! I would like to apprentice while you amend your site, how can i subscribe for a blog site? The account aided me a acceptable deal. I had been tiny bit acquainted of this your broadcast offered bright clear idea

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *