7 Februari 2007 admin 0Comment

Detik.com – Front Pembela Islam (FPI) Bandung mendatangai Rumah Sakit Kebon
Jati. Mereka mengklarifikasi kabar pelarangan mengenakan jilbab bagi perawat
di rumah sakit tersebut.

Delapan orang perwakilan FPI Bandung itu tiba di Rumah Sakit Kebon Jati, Jl
Kebon Jati, Bandung, Jawa Barat, sekitar pukul 10.00 WIB, Senin (12/2/2007).

Menurut Wakil Ketua FPI kota Bandung, Asep Syarifudin, kedatangan mereka
terkait surat pengaduan yang dilayangkan Serikat Pekerja Farmasi dan
Kesehatan Rumah Sakit Kebon Jati. Dalam surat tersebut para perawat
mengeluhkan pelarangan menggunakan jilbab selama menjalankan tugas.

“Kalau benar, kami meminta larangan itu dicabut karena bertentangan dengan
hak azazi manusia,” kata Asep.

Nining Sariningsih (26), salah seorang perawat Rumah Sakit Kebon Jati
membenarkan pihak direksi melarang para perawat mengenakan jilbab selama
bertugas. Padahal banyak perawat dalam kehidupan sehari-harinya terbiasa
mengenakan pakaian muslimah itu.

“Dari rumah kami pakai jilbab, tapi sampai rumah sakit terpaksa dibuka. Tapi
memang tidak ada peraturan tertulis mengenai hal ini,” tutur Nining.

Dia menambahkan, para perawat melalui Serikat Pekerjanya sudah beberapa kali
meminta direksi dan yayasan mengubah peraturan tersebut. Namun berulangkali
pula permintaan tersebut ditolak.

“Alasannya rumah sakit ini tidak mewakili agama manapun. Bahkan mereka
(direksi) bilang, kalau yang muslim memakai kerudung nanti yang Budha juga
akan meminta memakai kain saja (saat bertugas),” kata Nining.

Karena tidak juga ada titk temu, pihak Serikat Pekerja Farmasi dan Perawat
Rumah Sakit Kebon Jati mengadukan hal ini ke FPI kota Bandung. Mereka
meminta FPI Bandung melakukan advokasi terhadap masalah yang terjadi.

Tidak Diskriminatif

Kedatangan FPI kota Bandung ini diterima oleh Wakil Direktur Rumah Sakit
Kebon Jati, dr Yunandi. Kedua belah pihak kemudian melakukan pertemuan yang
difasilitasi oleh Kanit Intel Polresta Bandung Barat AKP Ketut Adi Purnama.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Rumah Sakit Kebon Jati itu,
Yunandi berkilah pihaknya tidak pernah melakukan diskriminasi dan intimidasi
terhadap perawat mengenai jilbab. Pihaknya hanya menyampaikan ketentuan
seragam kerja.

“Saat pertama kali masuk kerja, para perawat sudah dikasih tahu soal
ketentuan seragam perawat,” kata Yunandi sambil menunjukkan contoh seragam
kerja perawat yang berlaku pada umumnya.

“Kalau begitu, besok kita boleh pakai jilbab dong,” kata humas Serikat
Pekerja Farmasi dan Perawat Rumah Sakit Kebon Jati, Sumiyati, saat mendengar
pejelasan Yunandi.

Yunandi mengatakan, dia tidak belum bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Menurut Yunandi, dia akan melakukan koordinasi dengan pihak direksi maupun
yayasan.

“Saya tidak bisa memutuskan sendiri. Ini harus disampaikan ke pihak yayassan
dan direksi karena aturan ini (seragam kerja) sudah berlaku dari tahun
1979,” kilah Yunandi.

Pertemuan sempat berlangsung panas karena kedua belah pihak ngotot pada
pendiriannya masing-masing. Sampai pukul 11.45 WIB pertemua masih
berlangsung. Pihak FPI mengaku tidak akan meninggalkan Rumah Sakit Kebon
Jati sebelum ada jawaban yang pasti.

Sejumlah perawat juga mengikuti pertemuan tersebut dengan antusias. Terlihat
setidaknya ada 5 orang di antara mereka yang mengenakan jilbab. Namun mereka
mengaku sudah lepas jam kerja setelah shift malam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *