Aku Benci Kamu

in Cerpen

“…ima wa mada kanashii love song atarashii uta utaeru made…”, lantunan merdu lagu First Love-nya Utada Hikaru malam itu tiba-tiba bergema dari satu kamar di sebuah rumah kosan mungil. Jeje tengah berada di ruang tamu tampak mengahayati benar setiap bait dari lirik lagu tersebut. Secangkir kopi panas mengepul di atas meja, menemaninya duduk di sofa bututnya itu.

“Cie…, kenapa loe? Lagi jatuh cinta atau lagi patah hati tiba-tiba nyetel lagu kayak ginian segala? Atau jangan-jangan loe lagi sakit?”, tiba-tiba Panji muncul dari balik pintu kamarnya, lalu duduk tak jauh dari tempat Jeje terduduk

“Enak aja loe bilang gue lagi sakit!”, jawab Jeje singkat tidak begitu menanggapi pertanyaan Panji.

“Yeee… Abis, nggak ada hujan nggak ada angin tiba-tiba loe jadi melo gini.” komentar panji lagi.

“Eh, Ji, loe percaya nggak kalo cinta pertama itu nggak akan pernah mati?” Jeje justru membalas komentar Panji dengan satu pertanyaan. Wajah Jeje tampak serius.

“Ya percaya nggak percaya sih… Tapi kalo iblis itu nggak akan pernah mati sampai kiamat, gue percaya.” jawab Panji enteng.

“Gue nanya serius tahu!” gerutu Jeje mendengar jawaban Panji.

“Yeee, gue juga serius tahu! Iblis itu nggak akan pernah mati sampai kiamat.”

“Iya! Dan loe iblisnya!”, Jeje kesal dengan ketidakseriusan Panji.

“Deuuhhh… Segitu sewotnya… Oke deh, oke. Kita serius. So, pertanyaan apa tadi yang mau loe ajukan?” ungkap Panji sambil meraih kopi Jeje lalu meminumnya.

“Eh, kopi gue tuh!”

“Bagi sedikit, jangan pelit kayak iblis gitu dong… Hehehe…”

“Dasar cucu iblis!” lalu Jeje bangkit dari duduknya dan beranjak masuk kekamarnya.

“Eh, mau kemana loe? Nggak jadi bertanyanya?” tanya Panji.

“Mau tidur! Percuma gue nanya sama iblis, jawabannya pasti menyesatkan!” jawab Jeje enteng, lalu menutup pintu kamarnya.

“Itu berarti kopi ini buat gue semuanya dong? Makasih, loe emang iblis paling baik yang pernah gue kenal… Hehehe…”

“Terserah!”, tiba-tiba Jeje muncul dari balik pintu kamarnya, “Eh! Tapi jangan lupa cuci tuh gelas!” ucap Jeje singkat lalu kembali menutup pintu kamarnya.

“Oke deh kakak, tapi loe juga jangan lupa minum obat cacing ya… Hehehe…”

“Oya”, teriak Jeje dari dalam kamar, “Sekalian juga cuciin piring bekas gue makan tadi ya, thank before!”

“Apa?!” Panji balas berteriak, namun kata-kata selanjutnya tidak lagi terdengar oleh Jeje karena alunan musik yang semula pelan tiba-tiba menjadi sangat bergema dari dalam kamar Jeje.

Didalam kamar rupanya Jeje tidak langsung tertidur. Pandangannya kembali menerawang. Lalu tak lama ia beranjak ke meja belajarnya dan menulis sesuatu, Jeje tampak serius sekali menulisi kertas di hadapannya. Lalu dibacanya berulang-ulang tulisannya itu dengan mata yang berkaca-kaca sampai akhirnya ia tertidur di meja belajarnya. Isi tulisan itu :

“Bandung, 15 September 2004

Untuk Dina, semoga suatu saat kau membaca tulisan ini

Dina, aku tidak pernah tahu apakah kau akan membaca tulisan ini atau tidak, karena aku memang tidak pernah mempunyai nyali untuk mengirimkannya kepadamu. Entah aku kekanak-kanakan atau tidak, namun yang jelas sebenarnya aku sangat malu padamu dan pada diriku sendiri untuk menyampaikan semua ini padamu, menyampaikan semua hal yang telah aku pendam sesaat setelah semuanya aku hancurkan sendiri, semua hal yang aku tetap pendam karena keegoisanku.

Dina, maafkan jika aku kembali mengorek luka lama di hatimu, namun kau harus tahu, saat itu, saat bibir ini mengucapkan kata ‘putus’, bukan hatiku yang berbicara, melainkan keegoisan, jiwa kekanak-kanakan, dan segala kekhilafanku.Bahkan sesaat setelah itu aku begitu menyesali semua tindakanku, namun keegoisan begitu mendominasi jiwaku saat itu, sedang aku tahu kau begitu sakit dan kecewa dengan semua itu, dan kaupun harus tahu, kini aku sendiri begitu kecewa dengan diriku sendiri atas semua yang telah aku lakukan padamu.

Dina, bertahun-tahun aku tersesak memendam semua keegoisan ini. Bahkan aku terus membohongi diriku sendiri dengan mencari cinta di lain hati. Terakhir, aku hampir tersesat dengan penamaan cinta sejati pada satu hati yang lain. Dan malam ini aku tersadarkan pada semuanya. Mustahil aku dapat temukan kembali cintaku yang hilang jika aku mencari pada hati-hati yang lain, aku baru tersadar jika semua cinta itu telah aku berikan padamu.

Dina, 7 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dan selama itu aku gelisah! Hidupku seperti kehilangan arah tujuan. Aku begitu kacau! Mungkin sudah teramat terlambat untuk ku raih kembali cinta itu dari hatimu. Dan mungkin semua cinta itu bahkan sudah tidak ada lagi di hatimu, mungkin sudah kau buang jauh, mungkin sudah kau hancurkan dan tercecer begitu saja. Satu kekhwatiran yang sangat, aku takkan pernah dapat merangkai kembali cinta yang telah hancur berkeping-keping itu, bahkan menjadi abu dan debu! Namun bukankah cinta mampu merubah apa saja, termasuk segala kekhawatiranku itu? Ya, dengan cinta, kekhawatiran itu bisa menjadi tidak beralasan. Kesaktian cinta mampu mengabulkan segala permintaan, dan dengan restumu tentunya aku akan bisa merangkai kembali semua kepingan, abu, dan debu itu menjadi satu kesatuan yang utuh. Dan atas nama cinta, aku akan terus berjuang mengembalikan segalanya meskipun harus kunikmati sendiri.

Dina, kau berhak untuk membalas semuanya. Dengan tetap tertutupnya restumu, semua kekhawatiran dan mimpi burukku akan menjadi nyata, dan aku akan terima semuanya selama itu memang memuaskan dan membahagiakanmu. Namun aku yakin, peri kasih dalam dirimu akan tetap bijaksana, dan apapun kebijaksanaan itu, sekali lagi, harus aku terima.

Dina, tak ada salahnya bukan jika aku berharap masih bisa menikmati senyummu setiap saat? Senyuman seorang Dina yang takkan usang dimakan masa. Terakhir, aku hanya dapat berdoa semoga Tuhan mau membukakan pintu hatimu untukku.