Aku Benci Kamu

in Cerpen

“Jey, itu dompet siapa, Jey?”, tanya Opik setelah melihat sebuah dompet tebal tergeletak di pinggir jalan sepulang dari kampus.

“Wah, kayaknya dompet yang jatuh deh”, jawab Ajey cuek, berbarengan dengan diambilnya dompet itu oleh Opik.

“Wah, gila, Jey, isinya banyak banget…”, ucap Opik takjub.

“Emangnya berapa?”, tanya Ajey.

“Mungkin dua jutaan lebih, Jey”, jawab Opik.

“Gila, banyak banget”, ucap Ajey.

“Eh, Jey, ada fotonya” ucap Opik sambil terus memeriksa isi dompet.

“Eh, gila, cantik banget. Wah, Pik, kayaknya kita harus balikin dompet ini deh.”, ucap Ajey.

“Tapi, Jey…”

“Udah, uang bisa di cari, tapi kenalan sama cewek secanti ini… kapan lagi?”

“Oke deh, Jey. Tapi kemana kita harus balikin dompet ini?”, bingung Opik.

“Ya, loe lihatlah didalamnya, ada KTP atau kartu namanya nggak?”

Tanpa menjawab, Opik langsung memeriksa kembali dompet itu. Didalammnya tampak ada beberapa kartu ATM dan kartu kredit, serta sebuah KTP dan kartu nama atas nama Santi.

“Yap, ada Jey. Nama cewek itu Santi. Ini kartu namanya. Kapan kita mau balikin dompet ini?” ucap Opik.

“Wah, kalau sekarang udah kesorean, gimana kalau besok saja?”, saran Ajey di jawab dengan anggukan Opik tanda setuju.

* * *

Pada waktu yang disepakati, Ajey dan Opikpun tampak tengah bersiap berangkat untuk mengembalikan dompet yang ditemukannya kemarin ke alamat yang tertera di KTP yang ada didalam dompet itu. Dengan sandal jepit, kaos oblong, dan celana jeans, mereka menaiki angkot menuju alamat yang di maksud.

“Kayaknya ini deh Jey rumahnya”, yakin Opik sambil menyesuaikan alamat yang ada dalam dompet pada nomor rumah yang terpampang besar disebuah pintu pagar menjulang tinggi dan besar.

“Gila, ini rumah atau istana, gede banget. Coba deh cek lagi alamatnya, udah benar atau belum?”, saran Ajey.

“Iya, benar yang ini rumahnya Jey”, ucap Opik. Tiba-tiba seorang satpam menghampiri mereka dari dalam pagar itu.

“Maaf, mas, dari tadi saya melihat mas-mas ini didepan pagar, ada apa ya mas?” tegur satpam itu.

“Eh, begini pak, kami mau ketemu sama Santi. Santinya ada tidak ya pak?”, celetuk Ajey spontan menjawab pertanyaan satpam itu.

“Oh, non Santi. Memangnya mas-mas ini siapa?” tanya stpam itu lagi.

“Kami temannya, pak”, jawab Ajey lagi. Tampak kening satpam itu mengkerut tanda heran atau mungkin tidak percaya. Matanya tampak menatap curiga melihat penampilan Ajey dan Opik.

“Lho, kenapa pak?” tanya Opik merasa kesal diperlakukan seperti itu.

“Maaf, mas. Apa benar mas-mas ini temannya non Santi?” tanya satpam itu lagi. Opikpun langsung mengeluarkan kartu nama atas nama santi dan menunjukkannya pada satpam itu.

“Ini buktinya, pak.”, ucap Opik.

Sesaat setelah satpam itu memeriksa kartu nama itu, kembali satpam itu bertanya, “Dapat dari mana mas kartu nama non Santi ini?”

“Dengan kesal Ajey menjawab, “Ya dari Santilah, memangnya dari siapa lagi? Sekarang, Santinya ada atau tidak sih?!”

“Baiklah, tapi tunggu dulu disini sebentar, saya hubungi non Santi dulu. Oya, nama mas-mas ini siapa ya?” tanya satpam itu.

“Ajey dan Opik”, jawab Ajey.

“Baiklah, sebentar ya mas.” ucap Satpam itu sambil kembali masuk ke balik pagar besi, lalu tampak satpam itu menelepon dari dalam pos satpam didekat pagar.

“Halo, non, ada dua orang yang mengaku temen non, mau bertemu sama non.” Ucap satpam itu.

“Siapa, pak?”, tanya dari ujung telepon sana.

“Mereka mengaku bernama Ajey dan Opik, Non.”, jawab satpam.

“Ajey? Opik? Siapa mereka?”, tanya santi lagi.

“Tidak tahu, non. Semula saya tidak percaya, tapi mereka punya kartu nama non. Katanya dapat dari non Santi.”

“Ya sudah, pak. Suruh saja mereka masuk, saya tunggu didalam.”

“Baik, Non.” Patuh satpam itu sambil menutup telpon dan kembali menghampiri Ajey dan Opik.

“Ya, silakan masuk mas, kata non santi,non santinya menunggu didalam”.

“Terimakasih, pak”, ucap Ajey sembari menegakkan badannya, dan bergegas masuk kedalam. Namun, tiba-tiba satpam itu menghentikan langkah Ajey dan Opik.

“Maaf, mas. Bisa saya periksa mas-mas dulu. Silakan menempel ke tembok”, ucap satpam itu.

Sesaat Ajey dan Opik saling berpandangan tanda heran. Namun, karena enggan berkomentar, mereka menuruti saja permintaan satpam itu. Badan mereka merapat ke tembok, kaki agak melebar, tangan keatas, lalu satpam itu mulai memeriksa badan Ajey dan Opik, ya kayak di film-film lah.

“Baik, mas, bersih. Maklum ya mas, sekarang kan lagi banyak kasus bom, jadi harus hati-hati…”

“Oh, tidak apa-apa kok pak”, ucap Opik.

Akhirnya Ajey dan Opikpun berhasil melewati pagar besi tinggi besar itu. Sambil menunggu Santi keluar, mereka duduk-duduk diteras depan.

“Gila, Jey… Gede banget rumahnya, tamannya juga luas dan indah banget”, takjub Opik.

“Iya, gila, pasti Santi itu anaknya orang kaya, kata gua juga apa? Nggak sia-sia kita mengembalikan dompet ini.” Ucap Ajey.

“Iya, Jey. Sudah cantik, kaya lagi. Siapa tahu jodoh kita ya…”

“Iya, Pik”

“Ehm…, maaf, anda berdua yang kata satpam tadi mau bertemu saya?” ucap seorang wanita yang tiba-tiba keluar dari pintu rumah dan memotong pembicaraan Ajey dan Opik.

“Eh, uh, iya mbak.”, jawab Opik.

“Anda-anda siapa ya?”

“Eh, kenalkan, nama saya Opik”, ucap Opik sambil menjulurkan tangannya, disusul oleh Ajey.

“Ada perlu apa ya?”, tanya Santi lagi.

“Ini, mbak, kami mau mengembalikan dompet mbak yang kami temukan di jalan.”

“Dompet?”, ucap Santi sambil mengernyitkan dahinya.

“Iya, dompet. Apa ini betul dompet mbak?”, tanya Opik lagi sambil menjulurkan dompet itu ke arah Santi.

Setelah sesaat memeriksa dompet itu, santipun berkata, “ya, ini memang dompet saya, kemarin dompet ini hilang.”

“Diperiksa dulu mbak isinya, takut ada yang hilang”, ucap Ajey.

“Ah, tidak usah”, jawab santi sambil mengeluarkan 4 lembar seratus ribuan dari dalam dompet itu dan memberikannya pada Ajey dan Opik. “Ini uang untuk balas jasanya”

“Lho, apa maksudnya ini mbak?”, heran Ajey.

“Iya mbak, tidak usah, kami ikhlas kok”, tambah Opik.

“Sudahlah, terima saja uang ini, saya tidak ingin merasa berhutang budi”

“Nggak kok mbak, nggak apa-apa, kami benar-benar ikhlas kok”, ucap Opik lagi.

“Oh, atau kurang? Kalau begitu ini saya tambah lagi”, u\cap Santi sambil mengluarkan beberapa lemnbar seratus ribuan lagi.

“Lho, bukan itu maksud kami mbak.”

“Sudahlah, tidak usah jual mahal. Kalau begitu silahkan mabil smeua uang di dalam dompet ini.” Ucap Santi lagi.

Ajey langsung tertegun mendengar hal itu. “Maaf, mbak. Kami benar-benar tidak mengharapkan imbalan jasa dari mbak, kami ikhlas, mbak.”

“Ah, mana mungkin dizaman sekarang ini masih ada orang yang ikhlas, terlebih lagi dengan kasus seperti ini.”

“Oh, masih ada, mbak. Ya kami inilah”, ucap Opik.

“Memangnya apa yang mas-mas ini mau sih? Diberi uang tidak mau? Diberi semua juga tidak mau?”

“Kami tidak mau apa-apa mbak, cukup bisa kenalan sama mbak saja kami sudah puas”, ungkap Opik.

“Oh, jadi mau kenalan sama saya. Kalau begitu, rasanya lebnih baik dompet ini tidak kembali lagi ke saya, daripada saya harus kenal sama orang-orang semacam situ. Silakan kalau dompet ini mau di bawa lagi, lengkap dengan semua isinya.”

Wajah Ajey dan Opik langsung memerah, merek jelas-jelas tersinggung dengan ungkapan kalimat seperti itu.

“Maaf, mbak. Mbak pikir semuanya bisa mbak beli dengan uang. Mbka pikir semuanya bisa mbak ukur dengan harta. Tidak, mbak! Tidak! Memang semula kami mengembalikan dompet ini agar dapat berkenalan dengan mbak. Tapi kami belum tahu siapa sebenarnya mbak. Andai saja kami sudah tahu sebelumnya siapa yang akan kami hadapi, tentu kami akan teramat enggan untuk mengembalikan dompet ini. Terimaksih mbak. Saya lebih baik pergi daripada harus mengenal orang semacam mbak!” Tegas Ajey sembari membalikkan badannya dan bergegas pergi.

“Eh, jey, mau kemana loe?”, heran Opik.

“Sudah, ayo kita pergi dari sini”, ucap Jey sambil menarik tangan Opik.

“Eh, uh, tapi Jey…”

“Sudah…!”

Ajey terus bergegas sambil tetap menaruk tangan opik. Sementara dengan santai santi kembali masuk ke dalam rumahnya, sambil berucap “Orang aneh!”